Wawancara Ganesha Hijau

Posted on Updated on

Bismillahirrahmanirahim.

Tadinya saya mau nulis ini jadi status aja. Tapi ternyata kepanjangan. Yaudah dijadiin note aja. hho

Sekalian aja saya mengerjakan tugas ringkasan rangkuman wawancara disini. Semoga temen-temen yang gak kebagian wawancara Ganesha Hijau bisa dapet informasi juga, dan semoga bermanfaat.

Saya, bersama beberapa orang dari kelompok lain mewawancarai Kak Aldi -Ronaldias Hartantio- AR’07. Beliau adalah koordinator Ganesha Hijau periode 2010-2011. Ganesha Hijau adalah sebuah Badan Semi otonom, yang artinya suatu badan yang memiliki kedudukan setara dengan KM ITB (Keluarga Mahasiswa ITB). Seingat saya begitu.

Ganesha Hijau sendiri sebenarnya adalah sebuah forum. Forum yang isinya lembaga-lembaga di ITB, untuk menampung ide dan gagasan, lalu mengkoordinasikannya dengan tujuan menuju ITB Eco-Campus. Awalnya lembaga-lembaga yang masuk Ganesha Hijau adalah lembaga yang memang concern terhadap lingkungan, contohnya U-green, HMTL, Nymphaea, dll. Tapi sekarang, kata Kak Aldi. Semua lembaga ITB sudah masuk Ganesha Hijau. Tiap lembaga mengirimkan wakilnya ke Ganesha Hijau, untuk menjadi Agent of Eco-Campus -agen Eco-campus-.

Apa itu Eco Campus?

Eco-campus adalah kampus dengan segala perangkat di dalamnya memperhatikan aspek lingkungan. Jadi, maksudnya tidak hanya cukup dengan banyak pohon disana-sini. Tapi mulai dari fasilitas, kebijakan, dan gaya hidup dari kampus tersebut berwawasan lingkungan. Dan ini terangkum dalam fokus dari GH sendiri yakni, green lifestyle, green infrastructure, dan green policy.

Contohnya, dalam hal kebijakan. Misalnya dalam setiap event perlu dilakukan 3R, pengurangan dan pemilahan sampah. Infrastuktur misalnya tempat sampah yang berbeda jenis. Dan lifestyle adalah perilaku dari tiap warga kampus ITB yang peduli pada lingkungan.

Kak Aldi memaparkan bahwa ITB ini merupakan gambaran Indonesia 20 tahun ke depan. Jika ITB bisa Eco Campus, maka Indonesia pun bisa.

Tapi jika ITB sendiri tidak bisa, apalagi Indonesia?

Think Globally, Act Locally.

Itu adalah slogan atau semboyan dari GH. Mari berpikiran luas, mari berwawasan luas, memikirkan dunia, berpikir tentang perubahan iklim, energi, dll, tapi untuk mencapai hal besar tersebut mari mulai dari hal kecil, dari diri sendiri. 🙂

Ada dua budaya yang sedang dikembangkan GH setelah meilihat tujuan-tujuan dan misi tersebut, yakni integritas dan budaya menegur.

Integritas, jangan sampai ketika kita menjelaskan program 3R disana-sini, tapi kita malah tidak melakukannya.

Budaya menegur, beliau mengatakan bahwa sebuah krisis jika seseorang sampai takut untuk menyampaikan kebenaran, untuk menegur yang salah, padahal ia benar.

Astagfirullah.. sebuah renungan utk kita bersama.

Mungkin ini kata yang paling saya ingat dari wawancara rame-rame tadi bersama Kak Aldi, kurang lebih beliau mengatakan,

“Anak geologi itu gak percaya sampai skrg sama yang namanya Global Warming, mereka mengatakan kalau ini adalah sebuah siklus 20.000 tahun sekali. Mereka percaya bahwa sebentar lagi justru adalah Global Cooling. Tapi, walaupun mereka berpendapat seperti itu, mereka mengatakan bahwa peduli lingkungan ya tetap harus dilakukan, itu adalah sebuah keharusan.”

Ya, kurang lebih begitu. Dan saya mengatakan bahwa itu adalah kesimpulan yang tepat. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s