Waktu itu…

Posted on

Mungkin belum semua orang tahu, saya mempunyai adik kecil yang berbeda usia sekitar 16 tahun dengan saya.
Saya biasanya bertemu dengan dia hanya saat pulang ke rumah. Biasanya sepekan sekali.
Waktu liburan ini membuat saya lebih mengisi waktu di rumah, walaupun saya masih sering ke kampus di siang hari. Tapi, waktu bertemu dengan adik tentu menjadi lebih sering dibanding sebelumnya.

Sejenak saya merenung, adik saya sekarang sudah besar. Dia sekarang sudah bisa naik sepeda kecilnya. Dia sekarang sudah mulai bisa membaca huruf, mulai bisa baca iqro’, sudah bicara dengan sangat lancar. Sudah bisa loncat dan berlari.

Sejenak bepikir, sudah berapa momen yang saya lewatkan tanpa bersama adik? Secepat ini kah dia tumbuh? Sekarang dia semakin pintar. Sudah sekolah TK. Sudah punya banyak teman.

Lalu pikiran saya berputar pada diri sendiri, artinya diri ini pun sudah semakin tua dari hari ke hari. Apa yang sudah dilakukan? Makin konstruktif atau destruktif? Makin baik atau makin buruk? Lebih banyak beramal baik atau berbuat buruk?
Astaghfirullah.

Teringat juga, artinya orang tua pun sudah semakin tua. Apa yang sudah diri ini lakukan untuk orang tua? Di kampus selama ini, apakah sudah belajar dengan baik untuk memenuhi harapan orang tua? atau lebih banyak berleha-leha?
Astaghfirullah.

Hal ini mengingatkan bahwa waktu berjalan begitu cepat. Secepat tumbuhnya adikku saat ini mungkin, atau jauh lebih cepat lagi. Entah mungkin, saya pergi beberapa saat saja kuliah semester depan, dia sudah bisa membaca dengan lancar, atau mungkin sudah bisa mengaji.

Merenungi kembali akan arti waktu. Waktu yang begitu cepat.

Seperti dalam terjemah ayat berikut:
“Pada hari mereka melihat hari
berbangkit itu, mereka merasa
seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at: 46)

Semoga kita semua dilindungi Allah dari hal yang sia-sia dan bisa mengisi sisa waktu kita dengan hal bermanfaat.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat, terutama untuk diri sendiri atapun para pembaca.

***

Sesungguhnya malam dan siang
adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada
akhir perjalanannya. Jika engkau
mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. (Kam Madho Min ‘Umrika ?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s