Silaturahim ke Jogja, Solo, dan Cepu

Posted on Updated on

Bismillahirrahmanirrahim

Saya akan sedikit bercerita (agak panjang) tentang pengalaman silaturahim ke teman-teman daerah Jogja dan sekitarnya. Walaupun pembaca sudah sering ke Jogja atau belum pernah ke Jogja sekalipun, mungkin bisa mendapatkan hal baru dari tulisan saya. Semoga bermanfaat 🙂

***

Hari #1

Minimnya pengalaman bepergian membuat saya merasa perlu pergi bersama Fathy dari ‘kampung’nya di Jakarta. Dengan menggunakan travel dari Bandung, saya pun sampai di perkotaan Jakarta. Saya sudah pernah ke Jakarta sebelumnya, melihat gedung-gedung tinggi penuh warna menghiasi kota. Namun, rasa takjub itu tetap saja muncul ketika saya melewati perkotaan ini. Setelah sampai halte dan menunggu beberapa saat, saya bertemu Fathy, dan kami menuju rumahnya. Ketika menyusuri rumah-rumah penduduk, saya melihat ada sisi lain dari Jakarta. Sisi yang lebih ramah dari hiruk pikuk perkotaan dan gemerlap jalanan.

Sampai di rumah, saya bertemu ibunya Fathy, terasa kental logat dan gaya Betawi di sini. Santai, tegas, to the point. Beranjak dari rumah Fathy, kami menuju stasiun Jakarta dengan menaiki bus Kopaja, terlihat juga logat khas Jakarta di sini. Seolah-olah mengatakan, “Hidup di Jakarta itu berat men!”

Berangkat pukul 23.10 menggunakan kereta “Jaka Tingkir” menuju kota bernama “Yogyakarta”.

Sepanjang perjalanan, saya dan Fathy ditemani penumpang yang cukup menarik.

Di sebelah Fathy ada satu keluarga, ada abi-umi-anak-bayi-kakek-nenek. Sangat ramai. Terlihat mereka adalah keluarga islami, terlihat dari panggilan abi dan umi dari sang anak. Bayi keluarga ini pun sangat lucu, benar-benar lucu, serius.

Sedangkan di sebelah saya ada ibu-anak dan seorang ibu lain yang lebih tua. Sepanjang perjalanan, kedua ibu ini begitu akrab mengobrol, walaupun mereka baru pertama saling mengenal. Obrolan mereka tentang seorang pasangan suami istri yang seharusnya tetap mengingat orang tua mereka, apalagi orang tua yang sudah pensiun, sudah seharusnya pasangan suami istri memberikan sebagian rezekinya pada orang tua mereka. Walaupun orang tua tidak meminta, tapi sebaiknya perlu dilakukan. Begitulah obrolan mereka, saya hanya mendengarkan dalam diam.

Hari #2

Malam berlalu, shubuh pun tiba. Adzan terdengar sayup, beberapa orang mulai bangun untuk shalat shubuh. Karena tak ada ruang khusus untuk shalat dan mungkin akan sulit shalat dalam posisi berdiri saat kereta berjalan, orang-orang pun shalat dalam posisi duduk. Namun, yang membuat hati khawatir, sampai menjelang pukul 6 pagi rasanya tak semua orang bangun untuk shalat. Apakah mereka shalat ketika saya pergi ke kamar mandi? Atau memang wanita-wanitanya sedang berhalangan? Atau yang tidak shalat memang non muslim? Ah, wallahu a’lam. Rasanya perlu ada pengumuman dari speaker kereta bahwa “Sekarang sudah waktu shubuh”.

Pagi pun tiba, matahari mulai menyengat, hampir semua orang bangun. Petugas kereta pun ada yang mondar-mandir menawarkan makanan.

Namun kami lebih memilih menunggu sampai tujuan dan sarapan di Jogja.

***

Jogja. Stasiun Lempuyangan telah menunggu. Sebelum turun dari kereta, saya ditelfon oleh sahabat Jogja, yakni Koko. Tak disangka, Koko sudah berada di luar stasiun untuk menjemput kami berdua. Luar biasa.

Beberapa saat kemudian, Wiharsa pun datang. Kami memulai pagi hari dengan mencari sarapan. Pertemuan pagi pun dibuka dengan berbagai obrolan, seperti rencana perjalanan, kesibukan sekarang, hingga masa depan. Jangan berpikir terlalu kompleks ya 😀

Kami kemudian menuju rumah Koko, di sana kami bertemu Kiki, dan adik kecilnya Hammam.

Kami bertiga (saya, Fathy, dan Wiharsa) kemudian melanjutkan perjalanan meninggalkan Koko dan Kiki di rumahnya. Dengan menyewa motor, kami mulai berkeliling Jogja. Kami pun mampir ke Jalan Malioboro. Malioboro merupakan pusat oleh-oleh khas Jogja, banyak turis asing maupun lokal, banyak pula becak dan delman. Suasana yang ramai, tapi tidak mengurangi kenyamanan sepanjang berjalan. Suasana keramahan Jogja terasa di sini.

Dari sini, kami mampir ke Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini merupakan bagian dari daerah keraton. Nuansa klasik terlihat di masjid ini. Kami pun mampir ke daerah Keraton.

Masjid Gedhe Kauman
Masjid Gedhe Kauman

Kami kemudian mampir ke kosan Wiharsa, di sana kami beristirahat dan sempat mencoba bakmi khas Jogja. Porsi yang cukup banyak dengan harga murah. Jogja bisa dikatakan memiliki makanan yang relatif murah.

Setelah isya, Dinara datang ke kosan Wiharsa. Setelah makan malam bersama, kami pun meninggalkan Wiharsa dan kami bersama Dinara melaju menuju rumah Dinara. Rumah Dinara terletak di daerah kabupaten Sleman. Sehingga butuh waktu sekitar 30 menit untuk menuju rumahnya. Cukup jauh dan jalanan malam begitu sepi.

Hari #3

Di perkampungan Dinara terasa kembali keramahan khas Jogja. Di mana saling sapa pada siapapun yang ditemui di jalan dilakukan tanpa sungkan. Nyaman sekali rasanya.

Pagi hari, perjalanan kami lanjutkan bersama Dinara untuk mampir ke Masjid Kampus UGM.

Masjid Kampus UGM
Masjid Kampus UGM (Fathy-Alam-Dinara)

Kemudian kami bertemu Wiharsa kembali, rencana awal kami berempat menuju Solo di siang hari. Namun ada kabar duka dari ayah sahabat mereka, sehingga mereka harus membatalkan kepergian ke Solo.

Kami berdua akhirnya pergi ke Solo menggunakan kereta Sriwedari. Kereta yang bersih dan nyaman. Sekitar satu jam perjalanan, Alhamdulillah sampai juga di Stasiun Purwosari, Solo.

Menunggu beberapa saat, hingga kemudian Hafidz dan adiknya datang menjemput. Wah seperti sudah sangat lama tidak bertemu sahabat Solo yang satu ini. Haha.

Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Hafidz selalu mempromosikan bahwa Solo adalah kota. Ya, Solo adalah kota. Selalu. Beliau mencoba meyakinkan dengan menunjukkan banyaknya mall dan hotel di berbagai tempat di Solo. Solo ini nama lain dari Surakarta, menurut Hafidz, Surakarta adalah nama official-nya.

Di Solo kami mengunjungi rumah Hafidz tentunya, rumah yang ramai karena keluarga Hafidz memang ramai oleh saudara-saudaranya yang banyak. Sore hari, kami bersama Hafidz dan adiknya menuju tempat makan bernama “Mie Ayam Pocong”, sebetulnya nama aslinya bukan itu. Tapi masyarakat Solo sudah awam dengan nama itu. Bagaimana bisa diberi nama “Mie Ayam Pocong”? Hal ini berkaitan dengan mitos setempat. Tak perlu saya ceritakan lah ya, biar penasaran :p. Mie ayam di sini, daun bawangnya dipisah dalam wadah tersendiri seperti halnya sambal atau saos. Bahkan ada orang yang menghabiskan daun bawang sampai setengah wadah. Wow.

Malam hari, kami bersama Hafidz dan adik mengunjungi Monumen Slamet Riyadhi, Masjid Ageng Solo, alun-alun, dan food court di Jalan Galabo. Di Galabo, kami mencoba Nasi Liwet khas Solo, berbeda dari Nasi Liwet yang umum ada di Bandung. Di sini nasi liwetnya menggunakan ayam kampung, santan yang padat, dan sayuran yang saya sendiri tidak tahu namanya. Ada pula minuman jahe dengan berbagai varian, Jahe rempah, jahe uwuh (sampah), menarik bukan?

Masjid Ageng Surakarta (Hafidz-Alam-Fathy)
Masjid Ageng Surakarta (Hafidz-Alam-Fathy)

***

Hari #4

Pagi hari di Solo, kami kemudian mencoba makanan yang terkenal lagi di Solo bernama “Soto Segeer”, seingat saya ini hanya cabang dari kota lain. Kenapa diberi nama Segeer? Karena memang Segeer rasanya 😀

Menjelang siang, Wiharsa datang menyusul ke Solo. Setelah sarapan (lagi), kami pun berangkat menuju Cepu. Kami berangkat menggunakan bus. Konon bus melaju dengan cepat sekali dan itu sudah biasa. Kami naik bus kembali di Ngawi dan kemudian sampailah di Cepu.

Cepu merupakan kota kecil, tapi kaya akan minyak, sehingga Cepu disebut juga kota minyak. Adanya Pertamina dan Chevron di Cepu semakin menjelaskan itu semua.

Kami menuju Asrama STEM AKAMIGAS, perguruan tinggi dibawah Kementerian ESDM. Mengapa kami kesini? Karena ternyata ayah Wiharsa adalah kepala asramanya.

Sore hari, kami menuju tempat Sop Pak Min, yang katanya sudah punya cabang dimana-mana. Sop yang isinya kuah dan daging/ayam/lain-lain, tanpa sayuran. Sangat berbeda dengan sop pada umumnya.

***

Hari #5

Pagi hari di Cepu, kami bersama Wiharsa mengelilingi daerah Cepu. Dari mulai spot-spot kilang minyak, depot minyak, perumahan milik migas, SMP-SMA Wiharsa, rumah asli Wiharsa, hingga mampir ke daerah pembuatan kerajinan kayu di Bojonegoro.

Menuju siang hari, kami pun bersiap untuk pulang. Meninggalkan Cepu menggunakan bus seperti hari sebelumnya. Menuju Solo untuk transit, kemudian menggunakan kereta menuju Jogja untuk membeli titipan oleh-oleh.

Setelah selesai. Kami menunggu kereta di stasiun, sambil mengagumi betapa banyak kemajuan yang dialami PT Kereta Api. Fasilitas mulai membaik seperti mushola yang semakin bagus, toilet bersih dan gratis, ketertiban dan keamanan ditingkatkan, kenyamanan pun makin terasa. Walaupun masih ada kekurangan, tapi semenjak saya naik kereta dari jaman TPB, kemajuan ini sudah sangat luar biasa.

Tanpa disangka, kami bertemu Wiku di Stasiun Lempuyangan Jogja, dan bahkan kami duduk bersebelahan dengan Wiku. Haha. Saya sudah merasa akan bertemu anak ITB.

Berangkatlah dari Jogja menuju Bandung.

Hari #6

Saat hampir shubuh, kami tiba di Stasiun Kiaracondong, Bandung.

Kesan pertama dari Fathy adalah: “Dingin!”, haha

Alhamdulillah sampai Bandung. 

***

Selalu ada hal yang saya rasakan setiap kali saya bepergian. Perasaan itu adalah perasaan takjub, kagum, how could it be?. Kurang lebih seperti itu.

Kita ini sama-sama manusia kan? Sama-sama ciptaan Allah SWT. Tapi coba lihat, kita berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda, bahkan hanya karena berbeda tempat tinggal dan keturunan. Misalkan saja saya sedang berada di Cirebon, beberapa kilometer saja menuju Jawa Tengah, orang sudah berbicara dengan bahasa yang berbeda. MasyaAllah. Bukankah itu luar biasa? Mengapa tak Allah ciptakan manusia satu tipe saja dengan bahasa yang sama? Seingat saya agar kita bisa saling mengenal. (cek maksudnya di: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.316769465070293.74465.180667908680450&type=3). Mungkin hikmah lain dari saling mengenal adalah kita bisa saling belajar satu sama lain. Belajar dari orang yang sangat berbeda tipe dengan kita dari mulai kebiasaan, bahasa, sifat, dsb.

Kami menyebut sifat tersebut adalah kearifan lokal. Kearifan lokal orang Jogja sepenangkapan saya adalah ramah, kekeluargaan erat, saling menyapa, begitu hormat dengan orang yang lebih tua, tempat yang nyaman untuk sejenak bersantai. Kearifan lokal orang Jakarta adalah lugas dan apa adanya. Kearifan orang Solo adalah… *kurang bisa menangkap saya*.

Atau kita bisa belajar dari fenomena dari lingkungan yang berbeda tersebut. Misalnya seperti di Solo yang katanya banyak misionaris yang membuat banyak kasus pindah agama. Di Jogja yang masih memegang erat budayanya, kepemimpinan dari sultan, dsb.

Dari berbagai kearifan lokal, fenomena, dan keberagaman yang ada semoga dapat menjadi pembelajaran untuk kita semua. Mencoba mencontoh segala hal yang baik dan menjauhi segi yang kurang baik.

Begitu banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan bepergian. Semoga akan ada perjalanan silaturahim selanjutnya dan bisa makin banyak hikmah yang didapatkan!

Sampai jumpa lagi! 😀

***

1407373324644w/ Kokow/ Fathy20140808_03541020140810_05531420140807_134300

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s