Resensi “Hujan Matahari”

Posted on Updated on

Foto0167

Judul buku: Hujan Matahari
Penulis: Kurniawan Gunadi
Jumlah halaman: xii + 206 halaman
Dimensi: 14 x 26 cm
Penerbit: Canting Press, Bandung
Tahun: 2014
ISBN: 978-602-19048-1-7

Ada yang belum tahu siapa Kurniawan Gunadi? Jika belum, mungkin Anda perlu meluangkan waktu sejenak untuk membuka tumblr-nya (kurniawangunadi.tumblr.com) untuk mengetahui berbagai tulisan lain dari beliau.

Hujan Matahari merupakan kumpulan tulisan yang ada pada tumblr Kurniawan Gunadi dan beberapa tulisan baru yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Tulisan yang dimuat di buku ini berupa cerpen dan prosa mengenai kehidupan sehari-hari, makna kehidupan dengan lika-liku di dalamnya, dan dominan tentang rasa yang ada di dalam hati manusia.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni Gerimis, Hujan, dan Reda. Saya sendiri belum begitu memahami dasar dari pembagian ini karena saya tidak menemukan perbedaan yang signifikan dari berbagai tulisan pada tiga bagian tersebut.

Isi dari buku ini secara umum membuat kita merenung, tersenyum kecil, merasa malu sendiri, atau berkata dalam hati “Ah iya juga!”.  Mungkin setelah membaca buku ini, Anda akan menjadi sedikit lebih melankolis dari sebelumnya.

Sebenarnya, tulisan yang ada di dalam buku ini lebih dominan mengenai dia-yang-ada-di-sana-yang-entah-siapa. Bukan bicara kegalauan khas anak remaja, tetapi tentang renungan, kesabaran, penantian, keberanian, dan tentang hubungan dengan Tuhannya, yang mungkin akan dialami manusia dewasa.

Sebagai gambaran, saya kutip beberapa bagian dari buku ini:

“Tahukah kita? Diri kita dan apa pun yang kita miliki adalah yang paling baik untuk kita. Bukan untuk orang lain. Apa yang dimiliki orang lain, itu yang terbaik untuk mereka. Bukan untuk kita. Seandainya kita paham konsep kecil ini, kita tidak perlu iri hati. Sayangnya, di antara kita saling membandingkan. Lalu menyakiti diri sendiri.” (halaman 100, prosa “Mencari Tahu”)

“Syukurlah isi hati manusia masih rahasia. Seandainya tidak ada lagi rahasia di bumi ini, tidak akan ada lagi cerita bagaimana rasanya rindu yang tidak tersampaikan. Bagaimana rasanya menunggu. Bagaimana rasanya mendoakan diam-diam. Bagaimana rasanya berpapasan. Bagaimana rasanya bertemu. Syukurlah Tuhan masih merahasiakan isi hati seseorang dari orang lain. Jika tidak, tentu tidak akan ada cerita seromantis Ali dan Fatimah, Muhammad dan Khadijah, lalu aku dan kamu.” (halaman 131, prosa “Isi Hati”)

“Seseorang tidak perlu keluar dari jalan hidupnya sendiri untuk mencari partner di jalan lain. Justru jalan itulah yang akan mempertemukan mereka. Maka, tetap genggamlah impianmu, berjalan terus ke arahnya. Bukalah mata hati, kamu akan mendapati orang-orang yang memiliki impian sama denganmu sedang berjalan di jalan yang sama. Dan kalian akan bertemu pada satu titik, sehingga kalian akan berjalan bersama untuk satu impian yang sama.” (halaman 146, prosa “Jalan Pertemuan”)

Bagaimana? Sudah mulai terhanyut? 🙂

Jika saya boleh menyimpulkan, buku ini sangat menarik untuk dibaca, membuat kita terbawa dengan kata-kata di dalamnya. Bahkan ketika sudah mulai membaca, rasanya sulit untuk berhenti karena saking menikmatinya. Jadi, selamat membaca! 😀

Advertisements

2 thoughts on “Resensi “Hujan Matahari”

    littlestar said:
    24 November 2014 at 06:07

    Yup.betul sekali bro..
    Baca buku ini rasanya ga pgn brhenti sampai slesai. Pemilihan katanya pas bgt. Ga trlalu puitis shg sulit spahami buat s

      firdhacahyaalam responded:
      24 November 2014 at 10:11

      thx to littlestar yang udah minjemin bukunya. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s