Wisuda Penghafal Quran (?)

Posted on Updated on

Ada yang bertanya kenapa pakai tanda tanya?
Sengaja sih biar penasaran

Itulah yang terlintas di benak saya ketika pertama kali mendengar istilah wisuda penghafal quran. “Oh ada wisudanya toh. Kayak gimana ya?”

***

22/11/14

Wisuda ini bertempat di Masjid Habiburrahman, PT Dirgantara Indonesia. Saya mampir ke sini ingin melihat bagaimana prosesi wisuda tersebut.

Acara dimulai dengan sambutan dari Wakil Ketua DKM yang menyatakan, “Wisuda ini adalah langkah awal, perjalanan belum selesai. Semoga dapat menjadi penyemangat bagi santri yang lain.” Kurang lebih begitu kata beliau. Saya menyimak dari kejauhan.

Sesi selanjutnya diisi oleh Ustadz Suherman. Beliau adalah Pembina Santriwati STQ Habiburrahman. Oh ya, yang diwisuda pada kesempatan ini adalah santri akhwat.

Ustadz Suherman -yang baru pertama kali saya lihat- terlihat sekali kesan tegasnya. Beliau memaparkan, “Jumlah santriwati yang terdaftar 194 orang. Dari 194, yang aktif 30-51 orang, yang hadir kontinu 40 orang. Dan dari 40 orang, yang sudah selesai hafalan lebih dari 15 juz sudah ada tiga orang. Dan yang sudah ziyadah sampai 30 juz sudah 3 orang.”
Angkanya kurang pasti sih, saya mendengar sayup-sayup.

Beliau kemudian menyebutkan nama-nama santriwati tersebut beserta jumlah juz yang sudah dihafalkan. Beliau menyebut ada satu santri dengan prestasi yang sangat membanggakan, santri ini kelahiran 1988, santri tersebut menyelesaikan ziyadah (menambah hafalan baru) 30 juz selama 19 bulan. *Semoga saya tidak salah dengar*

Luar biasa bukan? T_T

Ustadz Suherman pun kembali menegaskan bahwa perjuangan belum usai, “Ini wisuda ziyadah”, katanya. Beliau pun menjelaskan bahwa dalam menghafal quran di sini, ada tiga fase yang dilalui:

  1. Ziyadah (menambah hafalan baru) 30 juz. Dengan nilai rata-rata 7,0 dan IPK 2,75 baru bisa diwisuda. Pada wisuda ziyadah, orang tua santri diundang.
  2. Murojaah (mengulang-ngulang hafalan) 30 juz sampai derajat kokoh. Yang dimaksud derajat kokoh adalah minimal tasmi’ 30 juz sebanyak 20 kali kepada Ustadz Suherman/pembimbing. Ada wisudanya juga.
  3. Murojaah 30 juz sampai derajat mendalam, sudah seperti air mengalir. Hafalannya harus diuji oleh ummat, diberikan ‘panggung’, setiap hadirin boleh menguji hafalan dari santri tersebut. Pada derajat ini, pejabat-pejabat Bandung diundang, alim ulama diundang.

Kemudian, prosesi inti wisuda pun dimulai. Santri-santri tadi, tiga orang dengan hafalan lebih dari 15 juz, dan tiga orang yang sudah 30 juz, dipersilakan ke depan. Mereka berdiri di depan bersama dengan ibunda mereka. Kemudian, para ibu memasangkan selempang pada masing-masing anaknya. Untuk yang sudah 30 juz, mereka juga disematkan medali. Prosesi ini terasa mengharukan ketika masing-masing santri mencium tangan ibunya, dengan diiringi pula syair(?) berbahasa arab. Seolah-olah santri tersebut mengatakan, “Ini hadiah untukmu Ummi, hadiah untukmu Bu.”

Wisuda Hafidz Quran @ Habiburrahman

Setelah itu, para santri dan ibunya kembali ke tempat masing-masing. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan santri yang lebih banyak menceritakan tentang perjuangan Ustadz Suherman dalam membina santri; sambutan perwakilan orang tua (kali ini dari ayah) yang menceritakan sebuah kekuatan dari do’a di setiap malam; dan terakhir sambutan penutup dari wakil Ketua DKM yang menyampaikan kembali bahwa kuncinya adalah “Semangat-semangat-semangat”.

Kemudian proses wisuda ditutup dengan do’a.

Ada quote yang penting untuk diingat, dan diaplikasikan tentu saja,

“Tidak ada keberhasilan tanpa kedisiplinan.” –Ustadz Suherman

Semoga dapat menjadi pengingat terutama untuk diri penulis sendiri.
Semoga dapat menjadi penyemangat kita untuk terus berinteraksi dengan Alquran.

Mohon dikoreksi jika ada data atau informasi yang salah.
Wallahu a’lam

***

“Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, ”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an”.” (HR. Al-Hakim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s