UAS Mentoring AEI

Posted on Updated on

Saya ingin berbagi cerita tentang UAS Mentoring AEI yang saya lakukan. Seperti yang kita ketahui, pada akhir mentoring AEI peserta mentoring harus melakukan UAS. UAS-nya sendiri tidak diberikan metode baku dari panitia, semua diserahkan kepada masing-masing mentor.

Ketika saya menjadi peserta mentoring AEI pada tingkat dua, metode UAS yang diberikan adalah tiap peserta diberikan pilihan topik, kemudian kami harus menyampaikan topik itu di dalam sesi mentoring. Pilihan topik yang waktu itu saya dapatkan (seingat saya) tentang Sekularisme dan Pluralisme, Jaringan Islam Liberal, dan sebagainya. Topik-topik yang cukup “berat” dan membuat kami harus mencari berbagai referensi dulu untuk menyampaikannya. Menarik memang dan membuka wawasan baru.

Ketika saya menjadi mentor, saya pun pernah memberikan metode UAS dengan cara yang sama, dengan pilihan topik yang sama pula. Tetapi di mentoring AEI 2014 kemarin, saya mencoba cara lain yang agak berbeda. Metode UAS-nya tetap menyampaikan materi, tetapi pilihan topiknya tidak sama seperti sebelumnya. Pilihan topiknya saya bebaskan kepada peserta, asalkan sumbernya dari salah satu subbab Buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Salim A. Fillah.

Mengapa saya pilih buku itu?
Sebetulnya agar saya dengar berbagai tausiyah penyejuk hati dari para peserta. Hehe.

Alasan lain:

Karena buku itu cukup ringan dibaca, berisi berbagai kisah sarat hikmah.
Karena buku itu rasanya merupakan buku keislaman pertama yang saya baca dan terasa begitu berkesan.
Karena dari buku itu saya mulai tertarik membaca buku-buku keislaman yang lain.

Dan saya harap, itu pun bisa dialami oleh peserta 🙂

***

Pada awalnya sempat muncul opsi UAS mentoringnya online saja. Metodenya adalah peserta membuat semacam tausiyah kemudian direkam dan diupload di Youtube. Tetapi karena banyak yang tidak setuju, UAS-nya kembali ke metode konvensional. Mungkin mereka masih malu-malu. Haha.

***

Waktu yang ditentukan telah tiba, UAS pun dimulai. Saking banyaknya anggota kelompok, UAS dibagi menjadi dua kali pertemuan, dibagi berdasarkan jurusan.

Dari berbagai subbab yang ada di buku tersebut, entah mengapa ada tiga orang yang memilih subbab yang sama. Padahal saya sudah meminta agar jangan sampai ada yang sama topiknya, tetapi karena baru ketahuan saat hari-H, UAS tetap dilanjutkan. Subbab tersebut berjudul “Sahabat untuk Diberi”. Kisah persahabatan antara Salman Alfarisy dan Abu Darda’, kisah tentang betapa itsar*-nya seorang Salman terhadap Abu Darda’. Entah mengapa kisah ini bisa sampai dipilih tiga orang, dan artinya saya pun harus mendengar kisah ini sampai tiga kali. Mungkinkah ini semacam teguran? Astaghfirullah.

Setelah UAS mentoring selesai, alhamdulillah ternyata respon peserta cukup positif terhadap buku ini. Mungkin banyak di antara peserta yang baru pertama kali membaca buku ini. Semoga jadi pemicu semangat untuk terus belajar Islam ya!

Dan….. tentunya mau lanjut mentoring 😀

***

Oh ya. Saking sering dengar, saya jadi cukup hafal kisahnya, dan saya sampai menceritakan kisah Salman dan Abu Darda’ di mentoring yang lain :”D

***

Ini link kisah Salman dan Abu Darda’:

Part 1: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/11/11/mw2l18-kisah-cinta-salman-alfarisi
Part 2: http://mutsaqqif.wordpress.com/2011/03/14/sahabat-untuk-diberi/

*itsar : mendahulukan kepentingan sahabatnya dibandingkan kepentingan dirinya sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s