Resensi Buku “99 Cahaya di Langit Eropa”

Posted on

Judul buku: 99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis: Hanum Salsabila Rais & Rangga Almahendra
Jumlah halaman: 420 + halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun: 2014 (Cetakan 6)
ISBN: 978-602-0052-8

Bismillah.

Kali ini saya akan menulis tentang beberapa hal yang saya dapat setelah membaca buku ini. Saya sudah berkali-kali mau menulis tentang buku ini tetapi tak kunjung jadi karena bingung apa yang harus ditulis. Telat juga ya saya baru baca. Haha *kemana aja lam*

Di buku ini diceritakan perjalanan Hanum dan Rangga menyusuri daratan Eropa. Sebetulnya Hanum datang ke Eropa, tepatnya Austria, untuk menemani suaminya, Rangga, yang sedang kuliah di sana. Hanum di sana pun sambil bekerja dan belajar bahasa Jerman di suatu tempat les. Nah, di tempat les itulah dia bertemu dengan sosok sahabat bernama Fatma. Dari pertemuan dengan Fatma, perjalanan menapaki jejak Islam di Eropa dimulai.

Dari buku ini, saya menemukan banyak hal tentang Islam yang ada di bumi Eropa. Saya jadi merasa cupu tentang pengetahuan sejarah Islam. Saya merasa banyak sekali hal yang tidak saya ketahui di dunia ini. Contohnya, kalimat tauhid dalam bahasa arab kuffic di pinggiran hijab Bunda Maria walaupun masih debatable, roti croissant yang konon melambangkan kekalahan bangsa Turki atas Austria, garis lurus Axe Historique di Perancis yang mengarah ke Mekkah, dsb.

Dari buku ini, saya juga diajarkan bahwa dimana pun seorang muslim berada, dia harus jadi agen muslim yang baik. Pun ketika seorang muslim berada di negeri perantauan. Seorang muslim tidak hanya ada untuk belajar jika menjadi mahasiswa, tidak hanya untuk bekerja jika menjadi pekerja, ataupun tidak hanya sekedar numpang tinggal atau jalan-jalan, tetapi harus bisa menunjukkan jati diri seorang muslim yang baik seperti apa. *jleb*

Buku ini pun mengingatkan kita bahwa muslim itu dimana pun berada memang bersaudara. Walaupun Hanum yang dari Indonesia, bertemu Fatma dari Turki, Marion dari Perancis, tetapi ketika bertemu dan saling mengucap “Assalamu’alaikum”, semua batasan dan perbedaan seolah hilang. Yang terasa hanyalah kita sesama muslim, maka kita bersaudara 😀

Buku ini pun mengingatkan kita bahwa hidayah itu memang datangnya dari Allah. Seorang yang tadinya memeluk agama lain kemudian terpukau akan kebesaran Islam melalui sejarahnya, kemudian mendapat hidayah untuk masuk Islam. Seorang yang tertarik kepada Islam hanya karena melihat tetangganya yang selalu ramah, tersenyum, dan berperilaku jujur, dapat menghantarkannya mendapat hidayah untuk memeluk Islam. Atau seseorang yang tadinya tidak berhijab, tetapi setelah menapaki jejak Islam di Eropa, bertemu dengan sahabat muslim yang begitu luar biasa, menjadi semakin tertarik dengan Islam dan kemudian mulai memakai jilbab. Sungguh indah. Di sini juga kita diajarkan untuk jangan pernah memvonis orang atau menyalahkan orang, karena hidayah Allah tak ada yang tahu kapan datangnya.

Pelajaran lainnya dalam buku ini adalah tentang mencoba membalas keburukan dengan kebaikan, mengalah tetapi sebenarnya menang, tentang mengelola prasangka, tentang persaudaraan sesama muslim bahwa muslim itu memang ibarat satu tubuh, “ketika yang satu sakit, yang lain ikut merasakannya”, dan masih banyak lagi hikmah-hikmah yang ada dalam cerita buku ini.

Keren kan?

Nah buku ini mungkin cocok untuk mengingatkan kita agar senantiasa meluruskan niat ketika akan pergi ke negeri perantauan, ataupun sudah ada di negeri perantauan. Mengingatkan kita bahwa cara “dakwah” yang paling sesuai saat ini di negeri minoritas muslim adalah dengan menjadi seorang agen muslim yang baik, ahli di bidangnya, ramah pada lingkungannya, dan berusaha menjadi teladan. *jleb jleb*

Buku ini cocok juga untuk orang yang suka travelling karena kita akan dibawa berjalan-jalan dari Austria, ke Perancis, ke Turki, dan ke Spanyol. Selalu ada cerita menarik dari sebuah perjalanan. Apalagi ini tentang menapaki perjalanan Islam di Eropa. Keren banget.

Mungkin setelah ini saya akan semakin senang jalan-jalan dan membaca buku semacam ini lebih sering. Haha.

“….Misi kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah, yang membawa keberkahan di komunitas nonmuslim.  Dan itu tidak akan pernah mudah.” –hal 47

“Aku yakin sebagaian besar manusia yang berpindah agama untuk memeluk Islam bukanlah mereka yang terpengaruh debat dan diskusi antaragama. Bukan karena terpaksa karena menikah dengan pasangan. Bukan karena mereka memperdengarkan ceramah agama Islam yang berat dan tak terjamah oleh pikiran awam manusia. Bukan karena semua itu. Sebagaimana Ezra yang tadinya apatis pada agama, dia jatuh cinta pada Islam karena pesona pemeluknya. Seperti Latife yang selalu mengumbar senyumnya. Seperti Fatma yang membalas perlakuan para turis bule di Kahlenberg dengan traktiran dan memberikan alamat email untuk membuka perkenalan. Seperti Natalie yang percaya restoran ikhlasnya bisa merekahkan kebahagiaan para pelanggan. Saat itu aku yakin, orang-orang ini memahami dan mengerjakan tuntunan Islam dengan kafah. Mereka paham bahwa dengan mengucap syahadah, melekat kewajiban sebagai manusia yang harus terus memancarkan cahaya Islam sepanjang zaman dengan keteduhan dan kasih sayang.” – hal 94,95

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s