Sangat Dekat

Posted on Updated on

Terjadi dalam waktu yang berdekatan, 26 Mei dan 1 Juni 2015. Hanya selang beberapa hari, salah seorang dari orang tua temanku… meninggal dunia.

***

26 Mei 2015

Aku memacu kendaraan dari sejak malam menuju rumah. Entah mengapa di perjalanan aku merasakan ada sesuatu terjadi. Hanya perasaan. Sesampainya di rumah, aku duduk sejenak dan melihat grup whatsapp sudah banyak notifikasi. Sangat mengagetkan, ternyata ayah temanku meninggal.

Esok paginya, aku bersama teman-teman Kimia 2010 datang ke rumah duka. Ah, ini yang selalu aku hindari: melihat tangisan. Melihatku dan teman-temanku datang, dia langsung menangis dan memeluk temanku. Aku dan teman-teman pun duduk di dalam ruangan, tempat jenazah ayahnya berada. Jenazah masih ada di rumah duka, belum dikuburkan.

Sesaat kami mengobrol dan mendengar dari teman kami bagaimana kejadiannya. Dia mengatakan bahwa ini terjadi begitu mendadak. Ayahnya secara “tiba-tiba” pergi ke suatu bank di dekat ITB, padahal di daerah rumahnya masih banyak bank serupa. Dia mengatakan seolah-olah ayahnya datang menuju kematiannya. Ayahnya sesak nafas saat di bank, dijemput sang istri dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Borromeus. Ternyata serangan jantung. Almarhum meninggal ketika berada di Borromeus.

Setelah bercerita beberapa lama, ambulance datang untuk membawa jenazah. Kami mengiringi jenazah menuju pemakaman. Aku sempat mengangkat keranda jenazah bersama warga yang lain. Sesuatu yang baru kali ini aku lakukan. Pikiranku melayang tak tentu.

Di pemakaman, ternyata sudah ada tiga liang lahat yang sudah tersedia untuk ditempati jenazah lain. Dalam hari itu saja sudah begitu banyak yang meninggal.

Proses pemakaman ini pun berlangsung begitu… ah sulit menggambarkannya. Ketika anak laki-laki dari sang ayah membawa jenazah memasuki liang lahat, ketika melihat tangisan yang tak terbendung dari pihak keluarga, sesuatu yang membuat perasaan tak karuan.

Selesai proses pemakaman, ada tokoh agama setempat yang memberikan tausyiah. Sang ustadz mengingatkan kita bahwa selanjutnya KITA-lah yang akan mengalami ini. Kita akan ditanya oleh malaikat, “Siapa Rabb-mu?”, “Siapa nabimu?”, “Siapa imam-mu?”, dan pertanyan lainnya. Mungkin jika saat ini kita ditanya, kita bisa menjawabnya. Tapi sang ustadz menjelaskan, jika keseharian hidup kita tidak benar-benar menjadikan Allah sebagai Rabb kita, tidak menjadikan Rasul panutan hidup kita, atau kita jauh dari Alquran, apakah mungkin kita bisa menjawab semua pertanyaan itu nanti?”

Aku terdiam.

***

31 Mei 2015

Dini hari. Aku mendapat pesan singkat dari temanku yang lain, dia mengatakan kalau kondisi ibunya sedang kritis.

Deg.

Aku berusaha tidak berpikir negatif. Aku berusaha tenang dan menyebarkan info ini pada teman-teman.

1 Juni 2015

Pagi hari, aku mendapatkan kabar jika ibunya telah meninggal dunia.

Ini terasa bagaikan sebuah pengingat bagiku, tamparan, atau apapun namanya yang terasa dalam benakku. Baru beberapa hari yang lalu aku mendatangi pemakaman ayah temanku yang lain, sekarang sudah ada lagi yang meninggal.

Ah iya, aku pun masih ingat beberapa bulan yang lalu, ayah dari temanku ini sudah lebih dahulu meninggal. Aku tidak habis pikir apa yang dirasakan temanku saat ini.

Kali ini pemakamannya ada di Cirebon. Aku pun berangkat ke Cirebon sejak pukul 10.00, lebih dahulu dari teman-temanku yang lain karena mereka baru bisa pergi sore hari.

Perjalanan terasa cepat dengan beragam pikiran dalam kepala.

Aku sampai di rumah duka sore hari.

Ternyata jenazah belum dishalatkan dan dikuburkan.  Sebelum dishalatkan, ada ustadz yang memberikan tausyiah. Kali ini sang ustadz menyampaikan tausyiah saat di mesjid tempat jenazah dishalatkan. Apa yang beliau sampaikan? Beliau lebih banyak menceritakan tentang sosok almarhumah, berbagai kebaikan yang almarhumah lakukan selama hidupnya. MasyaAllah. Apa yang akan orang bicarakan tentang kita ketika kita meninggal?

Aku pun ikut menshalatkan dan mengantar sampai pemakaman bersama dengan yang lain. Aku belum berbicara banyak dengan temanku sejak sampai di rumah duka, tapi aku melihat ada ketegaran di wajah temanku.

Setelah pemakaman selesai dan kembali ke rumah duka, aku mencoba menanyakan bagaimana kejadiannya. Dia menceritakan kalau ibunya memang sudah sakit sejak lama, tetapi dia mengatakan kalau dia masih bersyukur bisa hadir di saat terakhir ibunya, dia bisa mengantarkan jenazah ibunya sampai peristirahatan terakhir, dan dia mengatakan dia lebih tegar karena sudah pernah mengalami kehilangan saat kepergian ayahnya.

Ah.

Aku yang seringkali kelu tak bisa berbicara banyak dalam kondisi seperti ini, hanya bisa berkata pada temanku, “Sabar ya, semoga dikuatkan.”

Dia menjawab sambil menarik nafas panjang, “Iya insyaAllah yang terbaik, ibu udah gak sakit lagi sekarang.”

Aku terdiam.

***

Semua kejadian ini, yang terjadi dalam waktu berdekatan, tidakkah bermakna sesuatu?

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun
Allahummaghfirlahum war hamhum wa ‘afiihi wa’fu anhum

15 Ramadhan 1436 H, 2 Juli 2015
Sedang mencoba mengumpulkan berbagai kejadian selama ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s