First Flight: Malaysia

Posted on Updated on

18 Mei – 20 Mei 2016

This was my first flight, but I’m not so happy on that day because I used my friend’s money for the accommodation, conference fee, etc. Lol. Because of the funding from the study program was not released yet at those days.

Thanks to my friend Bima, he is my friend that I accompanied to Kuala Lumpur, he is kind of a person that quiet crazy to get his dreams.

Well, let’s talk about what happen in the journey…. in Bahasa. Haha. And I will talk briefly. Here we go.

***

Hal menarik yang saya alami saat pertama kali menggunakan pesawat adalah kekaguman pada awan yang sangat indah, melihat lautan luas dan pulau-pulau, melihat gedung-gedung dan jalanan yang mengecil seiring semakin tingginya pesawat, memunculkan lintasan pikiran akan kecilnya diri kita, kebesaran Allah yang Maha Kuasa yang mudah saja untuk melakukan apapun pada langit, bumi, dan seisinya. Betapa seringnya diri ini lupa.

Sesampainya di bandara, kami “disambut” dengan tulisan-tulisan berbahasa Malaysia yang terlihat lucu bagi orang Indonesia. Selain itu, saya pun disuguhi sistem transportasi umum yang lebih nyaman, dan orang-orang yang terlihat lebih sabar di jalanan. Haha, entahlah. Tapi tetap saja, saya merasa kondisi sekilas perkotaannya nampak seperti Jakarta digabung Bandung. Seharusnya Jakarta atau Bandung pun bisa membuat sistem transportasi semacam ini.
Semoga.

Hal unik lain adalah sering sekali terlihat orang keturunan India di sepanjang perjalanan, sepertinya mereka benar-benar melakukan diaspora di berbagai belahan dunia.

***

Di Kuala Lumpur, lebih tepatnya di Chinatown, kami menginap di suatu penginapan backpacker (Backpacker traveler’s Inn) yang ada di atas suatu rumah makan Chinese. Tempatnya cukup nyaman. Terlihat banyak bule yang juga tinggal di sana. Fasilitas yang menarik bagi orang teknik lingkungan pada penginapan ini adalah adanya sistem recycle water, rainwater harvesting, dan juga pemilahan sampah.

Di sekitar penginapan, kami menemukan mushola kecil setelah bertanya pada orang-orang sekitar. Di mushola tersebut, kami bertemu dengan seorang Jamaah Tabligh yang menjadi imam. Kami mengobrol ringan dengan imam tersebut seputar asal dari mana, sedang melakukan apa, dan seterusnya, hingga berujung pada ajakan untuk “pergi” selama 4 bulan. Kami hanya tersenyum dan terkagum mendengar ceritanya dalam berdakwah di daerah Chinatown tersebut.

Oh ya, sesungguhnya kami datang ke Malaysia untuk conference. Lebih tepatnya, saya menemani Bima untuk conference. Haha. Karena dia yang menjadi first author dan melakukan presentasi. Saya tentu saja tetap mengikuti jalannya conference, tetapi fokus saya saat itu adalah untuk menambah relasi dan “mencontek” bagaimana penyelenggaraan conference di sana.

Ketika telah berada di conference, kami berkenalan dengan orang-orang Indonesia (lagi) yang bertemu di sana, orang Malaysia, dan ada juga orang India. Satu hal yang agak lucu saat berkenalan dengan orang Malaysia adalah ketika kami bertanya tentang social media yang digunakan. Saat kami menyebut “path” dengan “pét”, mereka tidak paham. Ternyata, cara membaca “path” menurut google translate adalah “paat”. Mungkin aksen British ya. Haha. *pembelaan*

Saat conference kami bertemu Professor dari India. Beliau sangat senang melakukan conference. Baginya, selain untuk publikasi hasil research, dia juga dapat sambil berjalan-jalan. Kami pun tertawa dan meng-iya-kan.

Selesai conference, kami bertemu dengan panitia penyelenggara, dan bertanya pada mereka tentang persiapan conference ini. Mereka bercerita tentang panjangnya proses persiapan yang sekitar satu tahun. Namun, mereka bisa mengadakan conference ini dengan jumlah panitia yang tidak begitu banyak. Kami kagum, mereka melakukan kerja efisien.

***

Sepanjang conference, saya sebetulnya agak terusik dengan hingar-bingar yang ada. Saya merasa bahwa, “Beginikah dunia akademisi?”

Haha. Jangan takut, saya tidak menyalahkan. Dunia lain pun saya rasa tidak berbeda jauh hingar-bingarnya. Saya pun terus mendiskusikan ini dengan Bima dari semenjak conference. Hingga pada suatu titik, di akhir perjalanan pulang, saya berkesimpulan:

“Mau jadi apapun kamu. Tidak mengapa, jalani saja, asalkan itu pekerjaan yang halal.”

Misalnya, bagaimana jadinya jika di dunia ini tidak ada yang mau jadi pramugari. Semua pramugari merasa pekerjaan ini tidak cocok untuk mereka. Apa jadinya?

Atau penjual di Chinatown, apa jadinya jika mereka semua bosan dengan pekerjaan mereka? Bagaimana jika mereka semua memutuskan untuk hidup untuk berjalan-jalan saja selamanya?

Apa jadinya juga jika semua orang mau jadi entrepreneur? Lalu tidak ada yang mau bekerja kantoran, tidak ada yang mau bekerja di industri. Apa jadinya?

Begitu juga dengan pekerjaan seorang saintis, seorang peneliti, mungkin tidak semua orang merasa pekerjaan ini cocok dengan mereka, tapi itu tidak berarti apa yang dilakukan para peneliti itu salah. Tidak ada pekerjaan yang salah selama itu halal. Tidak perlu saling membandingkan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lain. Lakukan saja yang terbaik di bidang yang Anda senangi, yang Anda geluti. Niatkan pekerjaan tersebut untuk ibadah dan menjadi jalan untuk menjemput rizki yang berkah.

Ya. Hanya renungan singkat dalam perjalanan.

***

Terakhir, sebagai tambahan (dan hiburan), saya tampilkan beberapa foto kegiatan selama di sana, dan foto beberapa hal yang saya rasa unik. Semoga cerita ini bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s