Cerita I’tikaf

Posted on Updated on

I’tikaf bagi saya bukan hanya tentang ibadah di malam hari, bukan hanya tentang berdiam diri di masjid, tapi i’tikaf seolah bagai suatu momen pribadi yang tepat untuk merumuskan rencana kehidupan, momentum untuk istirahat sejenak dari urusan dunia yang tidak ada habisnya, mengalokasikan waktu khusus di masjid untuk beribadah kepada Allah SWT.

Pengalaman i’tikaf di dua ramadhan terakhir, membuat saya menemukan berbagai tipe orang yang sedang melakukan i’tikaf. Dari mulai orang yang sedang bingung merumuskan masa depan; orang yang sedang diberikan berbagai ujian; orang yang sedang Tugas Akhir tapi tak kunjung selesai; orang yang berkutat dengan lamaran kerja yang tak juga tembus; bahkan ada juga yang sedang dalam proses menuju pernikahan. Saya saksikan betul bagaimana i’tikaf ini menjadi saat yang tepat untuk perenungan dan do’a yang mendalam bagi orang-orang tersebut.

Saya pun menyaksikan dinamika kehidupan seseorang, ketika sedang dalam keadaan naik dan turun, terjadi di i’tikaf ini. Yang tahun lalu sedang dilanda kesulitan perkuliahan dan Tugas Akhir, tahun ini sudah bekerja di perusahaan ternama dengan proses penerimaan yang tidak terduga. Yang tahun lalu kebingungan karena belum diterima kerja, tahun ini akhirnya mendapat kerja setelah perjuangan panjang. Yang tahun lalu sedang kebingungan atas jawaban do’anya, tahun ini ia mendapatkan jawaban dari do’anya dengan cara yang tidak terduga. Betapa indahnya rencana Allah untuk hamba-Nya, saya semakin yakin bahwa Allah memang benar-benar sebaik-baik perencana.

Di sisi lain, saya pun selalu kagum dengan para bapak yang kuat dan tangguh untuk melakukan i’tikaf. Dengan usia yang tidak lagi muda, semangat mereka dalam beribadah sangat luar biasa. Kadang saya merasa, apakah usia kita bisa sepanjang bapak itu? Dan apakah jika usia kita bisa sepanjang bapak itu, bisakah kita giat beribadah seperti mereka? Ya, sebuah renungan untuk kita bersama.

Akhir cerita, saya menyarankan kepada para pembaca, untuk meluangkan waktu tidak hanya di malam hari untuk beri’tikaf, tapi cobalah hingga benar-benar dari pagi hingga pagi lagi berada di masjid. Bagi yang bekerja mungkin ada kesulitan, tapi bagi yang luang saya sangat merekomendasikan untuk benar-benar mengisi waktu kita lebih banyak di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. Jika tidak bisa 10 hari penuh, cobalah minimal 1 hari saja. InsyaAllah hal berbeda akan pembaca rasakan.

Mungkin kurang tepat ya di-post saat ini, tapi semoga tetap bisa menjadi referensi untuk rencana Ramadhan selanjutnya 🙂

Semoga Allah mengampuni segala dosa kita. Semoga Allah menerima segala amal kebaikan kita. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya. Aamiin.

***

IMG-20160714-WA0010
with partner-in-crime i’tikaf biofarma
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s