Kampus

Jangan Ragu Gabung KAMIL!

Posted on Updated on

Setelah istikharah panjang mencari petunjuk kuliah di ITB atau tidak, maka saya memutuskan untuk kuliah di ITB. Kita lihat saja ke depan akan jadi seperti apa, setidaknya jurusan saya berbeda dengan yang dulu, dari Kimia ke Teknik Lingkungan. Jadi lingkungan sekitar saya akan berbeda sekarang. Seharusnya saya tidak akan begitu bosan. Pikir saya saat itu.

***

Ketika momen daftar ulang mahasiswa baru, saya bertemu dengan kakak kelas yang sudah saya kenal sebelumnya. Ah, saya sudah sadari betul, dia mengikuti organisasi yang bernama “KAMIL”, Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarjana ITB, semacam GAMAIS saat S1 dulu. Saya melihat kakak tersebut menghampiri saya selesai daftar ulang di Sabuga, dan saya menghindar. Ya, saya menghindar, bahkan keluar dari pintu yang seharusnya bukan pintu keluar.

Jika boleh jujur, saya berencana untuk memfokuskan diri pada hal lain saat S2, mengejar mimpi-mimpi yang belum tercapai saat S1 dan pasca S1 dulu. Saya ingin lebih memfokuskan diri di akademik dan keprofesian, saya ingin menjadi professional yang memiliki banyak pengalaman. Terdengar egois kah? Haha. Tapi itulah yang saya pikirkan kala itu.

Sesungguhnya, saya bukan tipikal akademisi. Saat mendengar doktrin yang diberikan saat Sidang Terbuka bahwa kita harus banyak publikasi jurnal ilmiah, prosiding, dan sebagainya, saya hanya bergeming. Hati saya tidak bergetar sama sekali. Apakah ini tanda saya tidak cocok menjadi dosen? Entahlah. Yang jelas, berusaha menjadi professional adalah pilihan cita-cita yang saya ambil kala itu.

***

Hari demi hari saya jalani perkuliahan di S2 Teknik Lingkungan ITB, saya yang saat ini belum mendapatkan beasiswa, kesibukan sehari-harinya adalah mencari info beasiswa, ataupun info lomba, yang bisa menambah penghasilan. Tapi ya alhamdulillah, dari sekian lomba yang sederhana seperti lomba foto umum, lomba blog, belum ada yang berhasil saya menangi. Saya pun rasanya belum mencoba banyak lomba kala itu.

Pun beasiswa, sudah saya coba berbagai beasiswa tapi tak tembus juga. Yang saya yakini, rezeki tidak akan tertukar, jadi ya hajar saja, coba saja dulu. Dari mulai beasiswa pemprov jabar, Panasonic, pemprov jabar lagi, Beasiswa Unggulan, pemprov jabar lagi-lagi. Ternyata tidak ada yang tembus hingga menjadi awardee. Ya alhamdulillah syukuri saja, yang penting sudah mencoba.

Mimpi-mimpi saya yang lain adalah saya ingin bisa ke luar negeri. Saya bertekad dalam diri bahwa, walaupun tidak jadi kuliah di luar negeri untuk saat ini, saya tetap harus bisa ke luar negeri, entah exchange, conference, magang, atau apapun juga. Sehingga info-info study visit ke luar negeri tak juga luput dari mesin pencarian sehari-hari.

***

Well, untuk menjaga semangat, saya membuat grup bersama beberapa teman di Teknik Lingkungan (TL). Sebenarnya itu teman main saja, tapi di sana saya sering sekali share setiap info yang berkaitan dengan lomba, beasiswa, exchange, dan sejenisnya. Saya pikir mereka punya keinginan yang sama, ternyata berbeda. Ada yang lebih memilih kerja dan mempertanyakan kehidupan, ada yang super akademisi-peneliti-tiada henti, ada lagi yang hidupnya mengalir di alur game tengah malam. Haha.

img_5534Gambar 1. Random people di TL

Setidaknya hidup kami berjalan seperti itu adanya hingga suatu saat….

Info Training Calon Pengurus (TCP) KAMIL bertebaran dimana-mana, termasuk di grup TL. Entah bagaimana ceritanya salah satu dari kami tertarik untuk datang ke sana, and I feel like… “What? Seriously? Pada datang kah?” Saya tak tahu kenapa dia mengajak kami, yang jelas dia merasa bahwa ini bagus untuknya. Saya berpikir, “Baiklah, sekali saja tak apa.”

Kami pun datang ke acara TCP tersebut. Tak disangka ternyata kami para peserta “training” diminta menjadi panitia sebuah acara, dan tak disangka lagi, sebuah kebetulan (yang sebenarnya tidak ada kebetulan di dunia ini), saya terpilih menjadi ketua panitia. Speechless.

Bisa dibayangkan, saya yang hanya berniat datang sekali, bantu-bantu jadi seksi publikasi dokumentasi saja, dan mencoba menemani teman yang dapat hidayah (haha insyaAllah ya alhamdulillah), tiba-tiba menjadi ketua panitia.

***

Perjalanan menjadi ketua panitia pun dilalui. Berasa kembali seperti S1 dulu. Hanya mungkin dengan gaya yang berbeda karena memimpin orang dengan background usia yang tidak lagi sama.

Namun ternyata, kehidupan di KAMIL belum usai. Tiba-tiba saya dihubungi salah satu Pengurus Harian (PH) KAMIL 2015 untuk mendaftar menjadi calon ketua KAMIL 2016. Anda bisa bayangkan?

Alasan terbaik (untuk menolak) sudah saya siapkan, “Punten kang, saya ada rencana exchange 6 bulan ke Denmark. Jadi sepertinya gabisa.” Haha. Saya belum apply sesungguhnya, tetapi rencana ke Eropa memang sudah saya plot dari sejak lama.

Kembali ke tawaran mendaftar calon ketua KAMIL, chat berlanjut hingga berujung pada pernyataan dari PH yang menghubungi saya tersebut yang membuat saya tidak berkutik, walaupun saya lupa apa itu. Ditambah lagi dengan whatsapp dari guru saya yang membuat saya makin tidak berkutik. Hingga akhirnya, bismillah saya coba ikuti proses seleksi ketua KAMIL saat itu. Toh masih ada kesempatan gagal. Proses diikuti dari submit berkas, fit and proper test, uji publik (hearing), musyawarah akbar, dan ternyata…. Innalillahi… malah terpilih.

***

Masa-masa menjadi ketua KAMIL pun dimulai. Seperti yang saya bilang sebelumnya, di KAMIL kita beraktivitas dengan orang-orang  dengan latar usia yang beragam. Dari angkatan 2005 sampai 2011 ada di sini, dari yang sudah punya anak dua, wanita karir, PNS, fresh graduate, ada di KAMIL. Hal itu memberikan warna sendiri bagi saya ketika berorganisasi di KAMIL, apalagi ketika menjadi ketua.

Walaupun saya telah menjadi ketua KAMIL, saya tetap tidak mengubur mimpi saya di awal tadi. Saya tetap mengikuti berbagai seleksi untuk bisa ke luar negeri, seperti mendaftar exchange ke TU Munchen, University of Tokyo, Hokkaido, Roma, bahkan Maroko. Haha. Agak gila sih. Yang pertama tembus adalah ke Malaysia, walaupun itu hanya nimbrung teman saya-yang super akademisi-peneliti muda berbakat. Alhamdulillah.

Perjalanan mencari kesempatan ke luar negeri pun terus dilakukan hingga saya apply summer school di University of Duisburg-Essen, Jerman. Percaya atau tidak, saya sudah menandai summer school ini sejak tahun sebelumnya, saat deadline-nya sudah lewat. Walaupun sebenarnya tema course-nya agak jauh, lebih ke aquatic environment dan biologi. Tapi saya daftar saja, dengan research plan seadanya, dengan motivation letter penuh “bumbu”, Alhamdulillah diterima.

Sesungguhnya saya sangat tidak menyangka bisa diterima, karena sebetulnya saya hampir terlambat mengirim berkas, atau mungkin sudah terlambat. Tapi sepertinya masih dimaklumi karena faktor perbedaan waktu Jerman – Indonesia. *asumsi

Alhamdulillah bisa berangkat ke Jerman, bahkan saya berangkat dengan Ketua KAMIL sebelumnya. Ternyata beliau juga lolos seleksi ke Essen. MasyaAllah. Saya yakin ini bukan kebetulan. Tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah.

img-20160919-wa0068img-20160919-wa0038Gambar 2. Saat Summer School di Essen

***

Sungguh ini benar-benar curhat ya. Maafkan.

Tapi yang saya ingin sampaikan adalah bergabung di KAMIL tidak menjadi hambatan bagimu untuk tetap mencapai impianmu. Bagi saya tidak ada yang salah dengan bermimpi, walaupun mungkin itu terkadang gila dan bisa ‘membunuhmu’. Mungkin ini yang terjadi ketika saya berangkat ke Toyohashi, sungguh terasa beban menumpuk di kepala dengan campur aduk rasa bersalah.

Saya juga ingin bilang bahwa jangan takut untuk bergabung di KAMIL. Saya yang tadinya menghindar dengan susah payah pun ternyata menikmati aktivitas di KAMIL setelah bergabung di dalamnya. Orang-orang di dalamnya sangat menyenangkan dan bersahabat. Tak perlu takut merasa beda sendiri, tak perlu merasa “Aku mah apa atuh butiran debu”, tak perlu merasa KAMIL hanya untuk anak-anak yang dulunya rohis saja atau yang jilbabnya panjang saja. Di KAMIL isinya beragam. Dari yang ustadz banget, anak gunung, anak lab, anak Dota, anak anime, semuanya ada di KAMIL, dan dari mereka semua, kita bisa belajar banyak hal.

pengurus
Gambar 3. Pengurus KAMIL 2016-2017

Jadi, jangan ragu gabung KAMIL!
Yang jelas kita sama-sama manusia yang sedang berusaha memperbaiki diri, sambil mencoba berbagi kebermanfaatan dengan mahasiswa lainnya, dengan memaksimalkan potensi yang kita punya. Bukankah ketika mendekati-Nya sejengkal, Dia akan mendekati kita sehasta? Semoga Allah senantiasa memberi kita semua keikhlasan.

***

Anyway,

Saya menulis ini ketika H-2 kepengurusan KAMIL 2016 berakhir, ketika pikiran tak tentu karena belum kunjung bertemu dosen pembimbing, ketika grup BPH mulai riuh-rendah membicarakan perpisahan.

b25139-as-6
Gambar 4. BPH KAMIL 2016-2017 (yang bahagia)

Saya akan merindukan rapat-rapat BPH yang menyenangkan, lika-liku ADIWIDYA yang menguras pikiran, candaan-candaan garing di grup, dan segala macam proker yang luar biasa telah dijalankan oleh segenap pengurus KAMIL. Apresiasi tertinggi bagi BPH KAMIL 2016 yang sangat tahan banting dengan skill-nya yang begitu kompeten, Rahmat, Asiyah, Afid, Kak Ina, Suci, Kak Lia, Khalis, Kak Nurul, Mas Azhari, Bima, Teh Isma, Mas Tyan, Mbak Millah, Allan, Irma, Barra, Kak Anti, dan seluruh pengurus KAMIL, saya banyak belajar dari kalian semua. Kalau saya hanya sendiri, mungkin saya hanya akan terlindas pergolakkan zaman. Salam hormat juga untuk Dewan Penasehat Organisasi KAMIL, Pak Azrul, Mas Dedi, Mas Fawzi, dan tentu saja untuk Dosen Pembina KAMIL terbaik, Ibu Dewi Larasati.

Salam hangat dari saya, hamba Allah yang tertawan dosanya, yang banyak khilafnya, sedikit ilmunya, yang hanya ingin berbagi secuil hikmah peristiwa kehidupannya. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.

Bandung, 26 Januari 2017
Firdha Cahya Alam
S2 Teknik Lingkungan ITB 2015
Ketua Umum KAMIL Pascasarjana ITB 2016-2017
‘Demisioner’

***

Disclaimer.
Tulisan ini seharusnya ada di Pustaka KAMIL (Buku Terbitan Kepengurusan 2016), but dipost duluan di sini karena sedang open recruitment kepengurusan 2017-2018. hehehe
klik bit.ly/yukjoinkamil2017 

Semester 3 – S2 TL ITB

Posted on Updated on

Semester 3 di TL ITB merupakan tahap yang sangat berkesan bagi saya. Mengapa? Karena di semester 3 merupakan puncak dari kegiatan KAMIL Pascasarjana ITB, rasanya hampir setiap pekan ada acara. Sepertinya saya lebih sibuk di Kamil daripada di prodi. Haha. Selain itu, alhamdulillah juga di semester 3 ini bisa tercapai impian ke Eropa, sungguh Allah sebaik-baik pembuat rencana. Mungkin saya bahas ini di tulisan lain. Mungkin.

***

Semester 3 sebetulnya didesain bagi kita untuk memilih mata kuliah yang mendukung tesis kita. Jika kita ingin mengambil tesis tentang air, maka wajarnya orang akan banyak mengambil mata kuliah tentang air. Jika topik tesis tentang udara, tentu orang tersebut akan banyak mengambil mata kuliah berkaitan dengan udara. Namun, kenyataanya itu hanya teori. Banyak dari kita mengambil mata kuliah tidak melulu menyesuaikan tesis kita. “Atau mungkin hanya saya saja?”

Saya mengambil mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara, Rekayasa Air Berkelanjutan, dan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sangat random. Sebetulnya itu didasarkan karena saya yang S1-nya bukan TL, sehingga saya ingin belajar juga ilmu-ilmu lain yang tidak didapatkan ketika S1. Oleh karena itu, saya ingin memanfaatkan semester 3 ini sebaik mungkin untuk menjadi mahasiswa TL seutuhnya. Jadilah saya mengambil kuliah tentang air, udara, dan B3 (bukan tanah atau api). Namun, realitanya secara akumulatif saya tidak masuk kelas sampai kurang lebih satu bulan karena exchange tersebut, maka materi yang saya dapat secara langsung dari dosen tidak menyeluruh.

Pertama, mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara yang berbicara secara umum mengenai bagaimana kita mengelola kualitas udara, dari mulai prinsip dasar, skema air quality management, cara membuat kebijakan yang berdasarkan sains, cara perhitungan konsentrasi kualitas udara, pengenalan pemantauan kualitas udara, pemodelan kualitas udara, dan sebagainya. Sangat menarik, terutama bagi saya yang belum pernah belajar tentang ini sebelumnya. Hal penting yang saya dapat dari mata kuliah ini adalah, kita belum banyak memperhatikan permasalahan udara, banyak sekali teknologi yang tertinggal, standar kualitas udara pun berbeda dengan standar yang ada sekarang di dunia akibat keterbatasan teknologi tersebut. Selain itu, ada kata-kata yang terngiang dari ibu dosen, kurang lebih begini, “Negara lain sudah sangat memperhatikan hal-hal kecil, sedangkan negara kita, hal-hal besar saja tidak diperhatikan.” Miris.

Rekayasa Air Berkelanjutan, saat itu kami diajarkan tentang bagaimana memanfaatkan lingkungan dengan engineering untuk mendapatkan sumber daya air yang sustainable. Sebagai contoh, ada materi tentang wetland, green infrastructure, pengenalan rain water harvesting, dan berbagai teknologi dan penerapan pengolahan air. Sangat menarik. Poin penting yang saya dapat pada mata kuliah ini adalah sebetulnya ada banyak teknologi yang kita miliki dan bisa kita terapkan, tapi mungkin karena kita merasa “belum butuh”, dan stigma “air masih banyak”, sehingga hal ini tidak begitu diperhatikan.

Terakhir, pada mata kuliah Pengelolaan Limbah B3 kita diajarkan tentang definisi B3, limbah B3, klasifikasi limbah B3, pelabelan limbah B3, berbagai peraturan nasional maupun internasional terkait limbah B3, bahaya limbah B3, dan sebagainya. Poin penting yang saya dapat dari mata kuliah ini adalah ketika di lapangan, terkadang ada banyak “permainan” untuk mengakali limbah B3 ini. Ada yang berusaha agar limbah biasa diminta “diklasifikasikan B3”, atau ada yang berusaha sebaliknya. Hal ini juga salah satunya akibat peraturan yang terkadang kurang sesuai. Ya, memang banyak ironi di negeri ini kan?

Ah ya, satu lagi. Di semester 3 sebetulnya saya sudah mengambil mata kuliah Seminar dan Tesis. Mata kuliah ini bisa kita ambil sejak semester 3 agar semester 4 bisa nol SKS. Nol SKS berarti kita hanya membayar biaya kuliah setengahnya. Hehe. Alasannya tak hanya itu sebenarnya, jika mengambil tesis di semester 3, kita menyiapkan galat untuk lulus Juli atau Oktober dan memacu kita untuk lulus Juli. Hal ini karena jika kita mengambil tesis di semester 4, akan sulit untuk lulus Juli (atau mungkin bisa tapi sepertinya ajaib?) karena prosedur dari pengajuan Uraian Garis Besar (UGB) judul tesis, pengumuman judul tesis dan pembimbing, pembuatan proposal, Seminar 1, bingung-kebanyakan-mikir-mau-ngapain dan tahap-tahap selanjutnya yang membutuhkan waktu tak sebentar. Jadi saran saya tetap ambil tesis semester 3 ya. Hehe.

Mungkin itu saja kisah singkat di semester 3. Semoga bermanfaat bagi para mahasiswa S2 TL, calon mahasiswa, dan para pembaca sekalian. Semoga sukses!

First Flight: Malaysia

Posted on Updated on

18 Mei – 20 Mei 2016

This was my first flight, but I’m not so happy on that day because I used my friend’s money for the accommodation, conference fee, etc. Lol. Because of the funding from the study program was not released yet at those days.

Thanks to my friend Bima, he is my friend that I accompanied to Kuala Lumpur, he is kind of a person that quiet crazy to get his dreams.

Well, let’s talk about what happen in the journey…. in Bahasa. Haha. And I will talk briefly. Here we go.

***

Hal menarik yang saya alami saat pertama kali menggunakan pesawat adalah kekaguman pada awan yang sangat indah, melihat lautan luas dan pulau-pulau, melihat gedung-gedung dan jalanan yang mengecil seiring semakin tingginya pesawat, memunculkan lintasan pikiran akan kecilnya diri kita, kebesaran Allah yang Maha Kuasa yang mudah saja untuk melakukan apapun pada langit, bumi, dan seisinya. Betapa seringnya diri ini lupa.

Sesampainya di bandara, kami “disambut” dengan tulisan-tulisan berbahasa Malaysia yang terlihat lucu bagi orang Indonesia. Selain itu, saya pun disuguhi sistem transportasi umum yang lebih nyaman, dan orang-orang yang terlihat lebih sabar di jalanan. Haha, entahlah. Tapi tetap saja, saya merasa kondisi sekilas perkotaannya nampak seperti Jakarta digabung Bandung. Seharusnya Jakarta atau Bandung pun bisa membuat sistem transportasi semacam ini.
Semoga.

Hal unik lain adalah sering sekali terlihat orang keturunan India di sepanjang perjalanan, sepertinya mereka benar-benar melakukan diaspora di berbagai belahan dunia.

***

Di Kuala Lumpur, lebih tepatnya di Chinatown, kami menginap di suatu penginapan backpacker (Backpacker traveler’s Inn) yang ada di atas suatu rumah makan Chinese. Tempatnya cukup nyaman. Terlihat banyak bule yang juga tinggal di sana. Fasilitas yang menarik bagi orang teknik lingkungan pada penginapan ini adalah adanya sistem recycle water, rainwater harvesting, dan juga pemilahan sampah.

Di sekitar penginapan, kami menemukan mushola kecil setelah bertanya pada orang-orang sekitar. Di mushola tersebut, kami bertemu dengan seorang Jamaah Tabligh yang menjadi imam. Kami mengobrol ringan dengan imam tersebut seputar asal dari mana, sedang melakukan apa, dan seterusnya, hingga berujung pada ajakan untuk “pergi” selama 4 bulan. Kami hanya tersenyum dan terkagum mendengar ceritanya dalam berdakwah di daerah Chinatown tersebut.

Oh ya, sesungguhnya kami datang ke Malaysia untuk conference. Lebih tepatnya, saya menemani Bima untuk conference. Haha. Karena dia yang menjadi first author dan melakukan presentasi. Saya tentu saja tetap mengikuti jalannya conference, tetapi fokus saya saat itu adalah untuk menambah relasi dan “mencontek” bagaimana penyelenggaraan conference di sana.

Ketika telah berada di conference, kami berkenalan dengan orang-orang Indonesia (lagi) yang bertemu di sana, orang Malaysia, dan ada juga orang India. Satu hal yang agak lucu saat berkenalan dengan orang Malaysia adalah ketika kami bertanya tentang social media yang digunakan. Saat kami menyebut “path” dengan “pét”, mereka tidak paham. Ternyata, cara membaca “path” menurut google translate adalah “paat”. Mungkin aksen British ya. Haha. *pembelaan*

Saat conference kami bertemu Professor dari India. Beliau sangat senang melakukan conference. Baginya, selain untuk publikasi hasil research, dia juga dapat sambil berjalan-jalan. Kami pun tertawa dan meng-iya-kan.

Selesai conference, kami bertemu dengan panitia penyelenggara, dan bertanya pada mereka tentang persiapan conference ini. Mereka bercerita tentang panjangnya proses persiapan yang sekitar satu tahun. Namun, mereka bisa mengadakan conference ini dengan jumlah panitia yang tidak begitu banyak. Kami kagum, mereka melakukan kerja efisien.

***

Sepanjang conference, saya sebetulnya agak terusik dengan hingar-bingar yang ada. Saya merasa bahwa, “Beginikah dunia akademisi?”

Haha. Jangan takut, saya tidak menyalahkan. Dunia lain pun saya rasa tidak berbeda jauh hingar-bingarnya. Saya pun terus mendiskusikan ini dengan Bima dari semenjak conference. Hingga pada suatu titik, di akhir perjalanan pulang, saya berkesimpulan:

“Mau jadi apapun kamu. Tidak mengapa, jalani saja, asalkan itu pekerjaan yang halal.”

Misalnya, bagaimana jadinya jika di dunia ini tidak ada yang mau jadi pramugari. Semua pramugari merasa pekerjaan ini tidak cocok untuk mereka. Apa jadinya?

Atau penjual di Chinatown, apa jadinya jika mereka semua bosan dengan pekerjaan mereka? Bagaimana jika mereka semua memutuskan untuk hidup untuk berjalan-jalan saja selamanya?

Apa jadinya juga jika semua orang mau jadi entrepreneur? Lalu tidak ada yang mau bekerja kantoran, tidak ada yang mau bekerja di industri. Apa jadinya?

Begitu juga dengan pekerjaan seorang saintis, seorang peneliti, mungkin tidak semua orang merasa pekerjaan ini cocok dengan mereka, tapi itu tidak berarti apa yang dilakukan para peneliti itu salah. Tidak ada pekerjaan yang salah selama itu halal. Tidak perlu saling membandingkan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lain. Lakukan saja yang terbaik di bidang yang Anda senangi, yang Anda geluti. Niatkan pekerjaan tersebut untuk ibadah dan menjadi jalan untuk menjemput rizki yang berkah.

Ya. Hanya renungan singkat dalam perjalanan.

***

Terakhir, sebagai tambahan (dan hiburan), saya tampilkan beberapa foto kegiatan selama di sana, dan foto beberapa hal yang saya rasa unik. Semoga cerita ini bermanfaat 🙂

Semester 2 – S2 TL ITB

Posted on Updated on

Kembali lagi dengan cerita perkuliahan di Program Magister Teknik Lingkungan ITB, Jalur Teknologi dan Manajemen Lingkungan. Di semester dua terdapat beberapa mata kuliah wajib, yaitu Ekonomi dan Valuasi Lingkungan, Transport dan Transformasi Polutan, Pemodelan Lingkungan, dan Metode Penelitian. Selain itu, kita pun berhak mengambil beberapa mata kuliah pilihan. Saya memilih mata kuliah Daur Ulang Limbah, Perencanaan Lingkungan, dan Kapita Selekta.

Pada kuliah Ekonomi dan Valuasi Lingkungan kami belajar bahwa mengerti ilmu teknik lingkungan saja tidak cukup. Kita belajar bahwa di dunia nyata, orang akan bertanya “Apa untung-ruginya?”; “Berapa nilainya dari segi ekonomi?”, pertanyaan yang akan dilontarkan pada orang-orang dengan background ilmu idealis seperti teknik lingkungan. Kita tidak cukup hanya berkata, “Jangan bangun villa di daerah atas!”, “Jangan lakukan reklamasi!”, “Jangan bangun gedung di daerah ini!”, tanpa menyertakan perhitungan valuasi lingkungannya.  Selain itu, pada mata kuliah ini pun kami dijelaskan bahwa kadang –bahkan seringkali ketidak-idealan itu terjadi. Banyak valuasi proyek lingkungan yang dilakukan berdasarkan kepentingan orang yang membiayai perhitungan valuasi tersebut. Bisa kepentingan baik, bisa juga tidak. Sebuah ironi negeri ini.

Kami pun belajar hal lebih teknis pada mata kuliah Transport dan Transformasi Polutan. Pada mata kuliah ini saya merasa diajarkan sangat engineering. Misalnya, menghitung kadar air tanah, menghitung polutan yang terakumulasi pada ikan, menghitung waktu yang dibutuhkan untuk persebaran polutan, dsb. Ya, cukup menarik. Setelah belajar hal yang sangat broad pada kuliah Ekonomi dan Valuasi Lingkungan, pada kuliah ini kita belajar hal yang sangat detail dan spesifik.

Di mata kuliah Pemodelan Lingkungan kami belajar hal yang luas dan bisa juga spesifik. Pada mata kuliah ini kami belajar bagaimana membuat model dari masalah lingkungan yang terjadi. Masalah lingkungan bisa berupa hal makro seperti banjir, sampah, polusi udara, bisa juga hal mikro seperti pemodelan laju bioakumulasi, transport polutan pada air tanah, dsb. Mata kuliah ini menarik karena membuat kita belajar untuk melihat masalah secara menyeluruh terlebih dahulu, baru kemudian dipilih faktor-faktor utama dalam masalah tersebut. Salah satu tools-nya adalah System Dynamics. Sangat menarik.

Pada kuliah Metode Penelitian, kami belajar tahap-tahap dalam memulai suatu penelitian. Kami pun diajarkan mengenai contoh-contoh kasus plagiarisme yang ada pada dunia akademisi. Titik tekan pada mata kuliah ini adalah, bagaimana pola pikir kita bisa terbentuk untuk melakukan suatu penelitian. Dimulai dari masalah yang ada, menyusun hipotesis, dst.

Pada mata kuliah pilihan Daur Ulang Limbah, kami diajarkan mengenai teknologi dan peluang daur ulang limbah dari suatu permasalahan. Pada saat saya mengambil mata kuliah ini, dibagi menjadi dua bagian yakni mengenai reclaimed water (air daur ulang) dan solid waste management. Sangat menarik, walaupun terkadang lebih difokuskan pada teknologinya.

Pada mata kuliah Perencanaan Lingkungan, kami pun diajarkan berpikir luas kembali. Kami belajar mengenai konsep Design for Environment, Sustainable Development, Cradle to Grave, Material Flow Analysis, Risk Assessment, dsb. Sebagai contoh konsep Design for Environment adalah melihat dari suatu siklus di industri bagian mana yang paling mencemari lingkungan, kemudian kita pikirkan bagaimana cara mengatasinya, apakah mengganti bahan baku, mengganti teknologi, dsb.

Terakhir adalah mata kuliah Kapita Selekta. Pada saat saya mengambil mata kuliah ini, Kapita Selekta yang diadakan berupa kuliah online bertajuk “Sustainable Water Dialogue”. Kuliah online ini merupakan kerjasama empat negara, yaitu Indonesia, Jerman, Iran, dan Mesir. Mata kuliah ini sangat menarik karena kita bisa belajar permasalahan air di empat negara berbeda dan bagaimana mereka mengatasi permasalahan tersebut.

Jika kita lihat secara umum, semester dua membuat kami untuk memilih bidang apa yang paling kita minati di teknik lingkungan, entah itu air, sampah, atau udara, atau mungkin seluruhnya. Namun begitu, kita pun perlu dibekali hal yang sama, pengetahuan spesifik engineering, berpikir global melihat permasalahan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, dan tentu saja belajar menggunakan pola pikir penelitian.

Tambahan: menjelang akhir semester kami diminta membuat Uraian Garis Besar Judul Tesis, bagi yang berencana mengambil tesis Semester 3. Sebaiknya dipersiapkan sejak awal ya, jangan seperti saya. Haha.

Well, sebetulnya banyak hal lain yang terjadi di semester dua. Tapi mungkin cukup itu saja sebagai gambaran. Untuk yang akan menghadapi semester dua, semoga beruntung!

Semester 1 – S2 TL ITB

Posted on

Saya akan sedikit cerita mengenai hal-hal yang saya dapat dari berbagai mata kuliah di semester 1, S2 Teknik Lingkungan ITB, Jalur Teknologi dan Manajemen Lingkungan.

Saya belajar bahwa untuk meyakinkan pemerintah, masyarakat, industri, dan stakeholder lainnya mengenai suatu permasalahan lingkungan, diperlukan suatu penyajian data dalam bentuk yang baik dan benar. Suatu data tidak akan bisa memberi arti jika tidak diterjemahkan dan dianalisis dengan cara yang benar. Dan kami belajar mengenai hal tersebut di Analisis Data Lingkungan. Berbagai metode statistik dalam penyajian data, analisis data, dipelajari di mata kuliah ini.

Saya juga belajar bahwa kita tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan lingkungan seorang diri. Kita membutuhkan ahli dari berbagai bidang, ahli biologi, ahli pertanian, ahli sipil, dan ahli lainnya. Sudah tidak jamannya lagi untuk ego pada kemampuan masing-masing. Saya pelajari ini di mata kuliah Konservasi Sistem Lingkungan. Pada kuliah ini juga kita diajarkan untuk berpikir secara runut dalam menyusun rencana konservasi suatu sistem lingkungan, dari penentuan komponen lingkungan yang berpengaruh, hingga membentuk System Interrelationship Model. Pesan lain dari kuliah ini adalah, terkadang kita berpikir terlalu kompleks dan tidak teratur, padahal akan lebih mudah jika dibuat sesederhana mungkin dan berpikir secara runut.

Untuk memahami permasalahan lingkungan, tentu harus dipelajari hal yang paling mendasar. Maka dari itu, ada mata kuliah Dasar-dasar Teknik Lingkungan. Mata kuliah ini sangat mendasar, bahkan terdapat materi kimia yang mendasar di dalamnya, materi biologi, juga proses fisika. Mata kuliah ini bisa dikatakan sebagai modal awal untuk berkuliah di Teknik Lingkungan.

Di semester ini juga kami diwajibkan untuk mengambil mata kuliah prerequisite Kimia Lingkungan, Mikrobiologi Lingkungan, dan Laboratorium Lingkungan. Kimia lingkungan mengajarkan penggunaan ilmu kimia di lingkungan. Mikrobiologi lingkungan lebih mengajarkan berbagai teknologi pengolahan lingkungan yang melibatkan mikroba. Sedangkan Laboratorium lingkungan mengajarkan berbagai metode analisis laboratorium berbagai parameter kualitas air. Prerequisite ini sebagai modal dasar dan pendukung juga dalam memahami dasar ilmu lingkungan.

Selain itu juga ada mata kuliah Penelitian Operasi. Di mata kuliah ini kita belajar untuk berpikir secara efisien. Bagaimana suatu permasalahan lingkungan dibuat dalam model matematis sederhana. Ada juga mata kuliah Matematika Lanjut, model matematis yang lebih kompleks dipelajari. Pada kelas kami yang dipelajari adalah model yang berkaitan dengan air, banjir, dan turap.

Maka jika digabung, untuk menyelesaikan suatu permasalahan lingkungan, sebagai contoh untuk melakukan konservasi suatu kawasan, akan diperlukan ahli dari berbagai bidang. Untuk menunjukkan bahwa di suatu tempat benar-benar telah terjadi pencemaran lingkungan diperlukan statistik untuk menampilkan data secara benar dan meyakinkan. Dan untuk menyelesaikan suatu problem lingkungan yang besar, dapat disederhanakan melalui model matematis.  Dan tentunya, tidak akan bisa dilakukan penyelesaian masalah lingkungan jika kita tahu dasar dari ilmu lingkungan itu sendiri.

Pola pikir yang dibentuk di semester 1:

Mengetahui dasar ilmu lingkungan -> mengetahui bagaimana menyajikan data lingkungan -> mengetahui bagaimana melihat suatu permasalahan lingkungan secara sistem -> mengetahui bagaimana membuat model untuk membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan.

***

Jika Anda ingin kuliah di S2 Teknik Lingkungan ITB, khususnya Jalur Teknologi dan Manajemen Lingkungan, kurang lebih begitulah gambaran materi kuliah di semester satu. Semoga bermanfaat 🙂