Pengalaman

Tadinya Takut Umroh Malah Menemukan Keseruan yang Tak Terlupakan

Posted on Updated on

Judul yang dibuat bombastis mengikuti media mainstream saat ini. Hehe.

***

Pertama kali diajak umroh sebetulnya saya ragu, muncul perasaan seperti “Siap kah? Ntar gimana ya? Waduh ntar aja deh”, dan sebagainya. Namun, ketika manasik, salah seorang ustadz bilang bahwa kebanyakan orang yang takut untuk umroh itu karena dosa. Ya, orang-orang yang banyak dosa yang takut langsung Allah balas di Mekkah. Tapi ustadz tersebut meyakinkan, “Mengapa Allah ‘hanya’ mau membalas dosa kita ketika di Mekkah? Bukankah Allah bisa dengan mudah membalas dosa kita di sini?” Dan statement itu pun membuat saya berpikir, “Iya juga ya.” Serta merta, ketakutan untuk berangkat itu pun sedikit berkurang. Ya wajar lah saya takut, ku makhluk penuh dosa begini 😦

***

Sebagai informasi, ibadah umroh itu sederhananya terdiri dari berihram di miqot, thawaf, sa’i, dan tahallul (sekitar 2 – 3 jam saja durasi thawaf hingga tahallul). That’s it. Very simple. Sisanya kalau melihat umroh yang sampai berminggu-minggu, itu hanya tambahan saja untuk memperbanyak ibadah maupun ziarah.

Untuk membuat artikel ini semakin simple ala-ala hip***, saya paparkan 9 hal tak terlupakan ketika melaksanakan umroh pada akhir Ramadhan dan Syawal.

  1. Buka puasa disediakan jamaah dan panitia

Pertama kali buka puasa di sana pada saat 28 Ramadhan, berangkat sore hari dengan kondisi masih panas terik. Keadaan sangat haus dan lemas. Duduk di masjid setengah sadar. Bahkan sampai baca quran tidak ada suaranya. Haha. Datang dengan tangan kosong, tetapi diberi jamaah yang berlomba-lomba membagikan makanan (dari mulai kurma, roti cane/canai/maryam, air zamzam dingin, kopi arab, dan snack). Alhamdulillah banget, pertama kalinya buka puasa merasa sangat bersyukur. Berasa akhirnya ya Allah adzan juga. *adzan maghrib sekitar jam 7 malam, tapi terasa begitu lama.

IMG20170623185659
makanan yang didapat
IMG20170623173911
kondisi di selasar luar masjid
IMG20170623190628
kondisi bagian dalam masjid

Sistemnya itu akan ada orang yang menggelar plastik panjang yang menutupi shaf tempat sujud. Kemudian orang-orang akan menaruh kurma, roti, dll di masing-masing tempat orang. Banyak juga orang yang membagikan air (jus, susu, kopi, zamzam) sembari berkeliling membawa teko, atau membagikan kurma dan makanan lain bagi orang yang masih thawaf, atau berlalu lalang mencari shaf.

  1. Shalat Tarawih yang berkesan

Saya lupa-lupa ingat berapa jumlah rakaatnya. Yang jelas dua rakaat salam-dua rakaat salam, dengan bacaan yang ringan. Maksudnya satu surat langsung ruku’, atau dua surat lalu ruku’. Tidak lama berdiri, walaupun secara total 1 juz tarawihnya (saat itu juz 30 di malam 29 Ramadhan). Oh ya, dari satu shalat tarawih (yang dua rakaat) ke dua rakaat berikutnya, jedanya hanya sangat sebentar. Jadi, jika kita gunakan jeda untuk minum saja, sudah keburu takbir lagi imamnya. Tarawih selesai sekitar jam 11 atau 11.30 (isya sekitar jam 9). Ba’da tarawih ada selang sekitar satu jam atau dua jam, kemudian dimulai shalat qiyamul lail lagi. Nah jika qiyamul lail, baru dengan berdiri yang lama.

Sebetulnya, yang sangat berkesan adalah suara bacaan imam yang merdu. Ketika Anda pernah mendengar suara imam Sudais, atau Maher, dan imam-imam lainnya di mp3 murottal dari laptop. Saat ini Anda mendengarnya langsung alias live. Bukankah itu priceless :”) Akan sangat indah lagi jika kita sudah familiar dengan banyak murattal imam masjidil haram, sehingga tidak bingung siapa yang sedang jadi imam.

 

  1. Lebaran tetap ramai!

Menurut beberapa orang, akan sepi lebaran di Mekkah. Ah menurut saya tidak juga. Ramai kok. Selesai isya, semua orang langsung berhamburan. Bahkan ada yang sudah cipikacipiki ied Mubarak. Belum terdengar suara takbiran dari pengeras suara, tapi beberapa orang secara individu sudah mulai melantunkan kalimat takbir. Saya dalam hati: Jadi, besok syawal nih? Fix lebaran? :”)

Suara takbiran baru mulai bergema ba’da shubuh. Langsung haru rasanya. Shalat ied pun dimulai sekitar pukul 6 pagi. Setelah itu, ada ceramah ied yang saya bisa dengar translation-nya via radio. Ada petugas khusus translation juga yang berkeliling membawa earphone gratis.

Ba’da ceramah, orang-orang berhamburan keluar, terlihat saling salam dan berpelukan. Toko-toko langsung ramai, apalagi tempat makanan. Jalanan sangat macet. Ramai sekali.

IMG20170624215132  IMG20170625065239

IMG20170625070617  IMG20170625071008 IMG20170625071450

 

  1. Perbedaan budaya

Shock culture mungkin akan terjadi di negara yang kita kunjungi dimana pun itu. Tapi ketika di Mekkah dengan seluruh muslim dari berbagai belahan dunia muncul, sulit untuk membedakan orang ini berasal dari daerah atau negara mana. Sehingga saya tidak tahu, perilaku orang yang membuat shock ini berasal dari negara mana. Misalnya, ketika seseorang permisi mau lewat dari satu shaf ke shaf di depannya, jika di Bandung, umumnya orang akan bilang “punten”, atau menjulurkan tangan di antara dua orang, atau memegang bahu orang yang akan dilewati. Tapi sering yang saya alami adalah, orang yang permisi justru memegang kepala kita. Haha. Kepala. Pertama kali saya kaget, kayak “What?” Tapi ternyata itu tidak terjadi pada kepala saya saja, kepala orang lain juga mengalami hal yang sama.

Shock culture yang lain adalah ketika melihat orang lain marah. Terkadang orang yang salah, malah justru dia yang marah. Misalnya ada seseorang menyenggol orang lain, dan yang menyenggol yang menurut saya pihak yang salah karena dia bawa barang rempong jadi nabrak orang lain, tapi malah dia yang sewot marah-marah. Bingung kan?

Ada lagi flash back saat di imigrasi. Antrian yang sangat panjang dari orang-orang yang lelah dan letih setelah perjalanan panjang harus menghadapi petugas imigrasi yang “santai”. Para petugas imigrasi masih bisa melayani kita sambil menelefon orang lain, chit chat lama dengan petugas lain, ketawa-ketiwi di hadapan antrian manusia yang sudah seperti orang mau demo. “Hello ada orang disini.” Sepertinya mereka juga lelah dan sudah kebal (?) Ntahlah.

Ada juga budaya menarik lain, yaitu semangat menasihati orang lain tanpa sungkan. Jadi suatu siang di dalam masjid, ada orang-orang sedang mengobrol. Mereka sepertinya membicarakan seputar kondisi perpolitikan negaranya masing-masing. Tiba-tiba ada seseorang datang pada mereka, mengucap salam, pembuka sejenak, lalu membacakan hadits (?) tentang keutamaan berdzikir. Kemudian orang itu pun pergi. Orang-orang pun tersenyum.

Saya pun pernah mengalami langsung. Ketika saya memakai gelang tanda pengenal jamaah umroh yang berwarna oranye mencolok, seseorang di sebelah saya menegur saya, mengucap salam, dan lalu bilang “haram” sambil menunjuk gelang yang saya pakai. Lalu saya tunjukkan kalau gelang ini ada tulisan “keterangan jamaah umroh dst” lalu dia menunjukkan ekspresi “okay” dan meminta saya untuk menggunakan bagian gelang yang terlihat tulisannya.

  1. Dari jilbab yang “asal clek” dengan tangan siku masih kelihatan, sampai yang jilbab menutup seluruh tubuh (include wajah dan mata) ada di sini

Mungkin yang jilbabnya masih pada kelihatan tangan sampai sikunya itu bawa mukena juga. Hehe. Tapi yang jelas, ada sangat banyak perbedaan terjadi di Mekkah. Perkara lain yang berbeda dari mulai cara takbir, posisi tangan saat i’tidal, posisi kaki saat tahiyat, gerakan telunjuk saat tahiyat, dan sebagainya.

  1. Banyak simbol mata satu

Tidak banyak sebetulnya, hanya saja logo ini dipakai oleh kepolisian -yang mana- polisi ada dimana-mana, sehingga membuat mata satu itu ada dimana-mana. Entahlah mungkin saya cuma paranoid.

IMG20170624113245   img20170625065745.jpg

  1. Tukang dagang yang jago berbagai bahasa

Kalau ada tampang melayu Indonesia lewat, dia nyaut Bahasa Indonesia. Kalau orang wajah-wajah Pakistan, dia akan bicara urdu. Kalau ada orang Turki, dia bicara Bahasa Turki. Ini saya nebak aja sih. Karena tidak bisa membedakan bahasa. Haha. Yang jelas para pedagang bisa berbagai bahasa.

  1. Suasana Mekkah dengan spiritual tinggi, suasana Madinah sendu ngangenin

Tak bisa dipungkiri suasana Mekkah memang sangat luar biasa. Ketika melihat orang thawaf, atau melihat orang yang berusaha untuk mencium hajar Aswad, shalat di Hijr Ismail atau di belakang Maqam Ibrahim, atau melihat orang yang berdo’a begitu lama (saya lihat ada yang sampai 30 menit mengangkat tangan untuk berdo’a sambil berdiri), melihat semua itu kadang membuat hati sedih. Membuat diri merasa masih jauuuuh rasanya dari taat, membuat diri merasa hina, butiran debu is real lah. Malu rasanya.

IMG20170626162212

Pun di Madinah, yang lebih saya rasakan adalah rasa rindu orang-orang terhadap Rasulullah SAW dan para sahabat. Ketika melalui makam Nabi dan para sahabat banyak orang yang berhenti sejenak dan berdo’a. Ah sedih. Apalagi membayangkan juga dulu bagaimana persaudaraan Muhajirin dan Anshar yang begitu melegenda terjadi di Madinah. Semua tempat memiliki cerita masing-masing.

IMG20170702055609 IMG20170630165059

  1. Tak bisa Bahasa Arab membuat merasa terasing

Bagaimana tidak? Percakapan dimana-mana hampir selalu terdengar Bahasa Arab. Seorang jamaah pun pernah menegur saya dan bertanya asal dari mana, kemudian dia bertanya “Speak Arabic?” dan saya hanya bisa menjawab “No.” Pembicaraan pun kikuk 😦

***

Ah sebetulnya masih banyak lagi keseruan yang terjadi. Seperti petugas masjidil haram dengan berbagai seragamnya, “mengerikannya” gedung-gedung pencakar langit di sekitar masjidil haram yang makin banyak, hitsnya al-baik chicken, perpustakaan masjidil haram, tempat-tempat bersejarah di Mekkah-Madinah, exhibition di seputar Masjid Nabawi yang seru, dan lain sebagainya. Tapi rasanya ini sudah terlalu panjang. Haha.

***

Kembali lagi ke ketakutan untuk umroh, ternyata bukan saya saja yang mengalaminya. Ada banyak di Indonesia yang juga terjangkit sindrom ini. Seorang jamaah pernah bercerita pada saya, beliau seorang bapak yang cukup tua, dia juga pernah tidak berniat untuk umroh. Bahkan menurutnya, karena dia tidak niat-niat, booking umroh yang dilakukan anaknya tak kunjung tembus. Selalu ada masalah sehingga gagal berangkat. Namun ketika dia mulai berniat, maka Alhamdulillah diizinkan berangkat. Beliau pun bertutur bahwa dia bahkan sudah lupa cara baca huruf arab. Tetapi ketika di Mekkah dia jadi ingat lagi Alhamdulillah.

Tentang niat, bapak itu pun berpesan: Niatkan dulu saja untuk berangkat umroh, untuk haji. InsyaAllah ada jalan. Buktinya banyak kisah orang-orang “tidak mampu” yang justru Allah mampukan dengan jalan tidak terduga. Jangan sebaliknya, sudah punya kemampuan harta, bahkan sudah meng-umroh-kan atau meng-haji-kan saudara-saudaranya. Tetapi ketika diajak berangkat, selalu berkata, “Saya belum siap. Pokoknya belum siap.” Dia bilang, ada lho orang yang seperti ini. Bukankah itu ironi 😦

Jadi, yuk sama-sama niatkan untuk berangkat.
Ketika saya takut berangkat pun malah bertemu dengan berbagai keseruan dan ketakjuban, apalagi jika Anda berangkat dengan niat dan persiapan yang matang :”)

Semoga Allah memudahkan jalan kita semua 🙂

===

Ditulis sebagai penyemangat bagi diri sendiri, dan semoga bermanfaat bagi pembaca.

Syawal 1438 H

Jangan Ragu Gabung KAMIL!

Posted on Updated on

Setelah istikharah panjang mencari petunjuk kuliah di ITB atau tidak, maka saya memutuskan untuk kuliah di ITB. Kita lihat saja ke depan akan jadi seperti apa, setidaknya jurusan saya berbeda dengan yang dulu, dari Kimia ke Teknik Lingkungan. Jadi lingkungan sekitar saya akan berbeda sekarang. Seharusnya saya tidak akan begitu bosan. Pikir saya saat itu.

***

Ketika momen daftar ulang mahasiswa baru, saya bertemu dengan kakak kelas yang sudah saya kenal sebelumnya. Ah, saya sudah sadari betul, dia mengikuti organisasi yang bernama “KAMIL”, Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarjana ITB, semacam GAMAIS saat S1 dulu. Saya melihat kakak tersebut menghampiri saya selesai daftar ulang di Sabuga, dan saya menghindar. Ya, saya menghindar, bahkan keluar dari pintu yang seharusnya bukan pintu keluar.

Jika boleh jujur, saya berencana untuk memfokuskan diri pada hal lain saat S2, mengejar mimpi-mimpi yang belum tercapai saat S1 dan pasca S1 dulu. Saya ingin lebih memfokuskan diri di akademik dan keprofesian, saya ingin menjadi professional yang memiliki banyak pengalaman. Terdengar egois kah? Haha. Tapi itulah yang saya pikirkan kala itu.

Sesungguhnya, saya bukan tipikal akademisi. Saat mendengar doktrin yang diberikan saat Sidang Terbuka bahwa kita harus banyak publikasi jurnal ilmiah, prosiding, dan sebagainya, saya hanya bergeming. Hati saya tidak bergetar sama sekali. Apakah ini tanda saya tidak cocok menjadi dosen? Entahlah. Yang jelas, berusaha menjadi professional adalah pilihan cita-cita yang saya ambil kala itu.

***

Hari demi hari saya jalani perkuliahan di S2 Teknik Lingkungan ITB, saya yang saat ini belum mendapatkan beasiswa, kesibukan sehari-harinya adalah mencari info beasiswa, ataupun info lomba, yang bisa menambah penghasilan. Tapi ya alhamdulillah, dari sekian lomba yang sederhana seperti lomba foto umum, lomba blog, belum ada yang berhasil saya menangi. Saya pun rasanya belum mencoba banyak lomba kala itu.

Pun beasiswa, sudah saya coba berbagai beasiswa tapi tak tembus juga. Yang saya yakini, rezeki tidak akan tertukar, jadi ya hajar saja, coba saja dulu. Dari mulai beasiswa pemprov jabar, Panasonic, pemprov jabar lagi, Beasiswa Unggulan, pemprov jabar lagi-lagi. Ternyata tidak ada yang tembus hingga menjadi awardee. Ya alhamdulillah syukuri saja, yang penting sudah mencoba.

Mimpi-mimpi saya yang lain adalah saya ingin bisa ke luar negeri. Saya bertekad dalam diri bahwa, walaupun tidak jadi kuliah di luar negeri untuk saat ini, saya tetap harus bisa ke luar negeri, entah exchange, conference, magang, atau apapun juga. Sehingga info-info study visit ke luar negeri tak juga luput dari mesin pencarian sehari-hari.

***

Well, untuk menjaga semangat, saya membuat grup bersama beberapa teman di Teknik Lingkungan (TL). Sebenarnya itu teman main saja, tapi di sana saya sering sekali share setiap info yang berkaitan dengan lomba, beasiswa, exchange, dan sejenisnya. Saya pikir mereka punya keinginan yang sama, ternyata berbeda. Ada yang lebih memilih kerja dan mempertanyakan kehidupan, ada yang super akademisi-peneliti-tiada henti, ada lagi yang hidupnya mengalir di alur game tengah malam. Haha.

img_5534Gambar 1. Random people di TL

Setidaknya hidup kami berjalan seperti itu adanya hingga suatu saat….

Info Training Calon Pengurus (TCP) KAMIL bertebaran dimana-mana, termasuk di grup TL. Entah bagaimana ceritanya salah satu dari kami tertarik untuk datang ke sana, and I feel like… “What? Seriously? Pada datang kah?” Saya tak tahu kenapa dia mengajak kami, yang jelas dia merasa bahwa ini bagus untuknya. Saya berpikir, “Baiklah, sekali saja tak apa.”

Kami pun datang ke acara TCP tersebut. Tak disangka ternyata kami para peserta “training” diminta menjadi panitia sebuah acara, dan tak disangka lagi, sebuah kebetulan (yang sebenarnya tidak ada kebetulan di dunia ini), saya terpilih menjadi ketua panitia. Speechless.

Bisa dibayangkan, saya yang hanya berniat datang sekali, bantu-bantu jadi seksi publikasi dokumentasi saja, dan mencoba menemani teman yang dapat hidayah (haha insyaAllah ya alhamdulillah), tiba-tiba menjadi ketua panitia.

***

Perjalanan menjadi ketua panitia pun dilalui. Berasa kembali seperti S1 dulu. Hanya mungkin dengan gaya yang berbeda karena memimpin orang dengan background usia yang tidak lagi sama.

Namun ternyata, kehidupan di KAMIL belum usai. Tiba-tiba saya dihubungi salah satu Pengurus Harian (PH) KAMIL 2015 untuk mendaftar menjadi calon ketua KAMIL 2016. Anda bisa bayangkan?

Alasan terbaik (untuk menolak) sudah saya siapkan, “Punten kang, saya ada rencana exchange 6 bulan ke Denmark. Jadi sepertinya gabisa.” Haha. Saya belum apply sesungguhnya, tetapi rencana ke Eropa memang sudah saya plot dari sejak lama.

Kembali ke tawaran mendaftar calon ketua KAMIL, chat berlanjut hingga berujung pada pernyataan dari PH yang menghubungi saya tersebut yang membuat saya tidak berkutik, walaupun saya lupa apa itu. Ditambah lagi dengan whatsapp dari guru saya yang membuat saya makin tidak berkutik. Hingga akhirnya, bismillah saya coba ikuti proses seleksi ketua KAMIL saat itu. Toh masih ada kesempatan gagal. Proses diikuti dari submit berkas, fit and proper test, uji publik (hearing), musyawarah akbar, dan ternyata…. Innalillahi… malah terpilih.

***

Masa-masa menjadi ketua KAMIL pun dimulai. Seperti yang saya bilang sebelumnya, di KAMIL kita beraktivitas dengan orang-orang  dengan latar usia yang beragam. Dari angkatan 2005 sampai 2011 ada di sini, dari yang sudah punya anak dua, wanita karir, PNS, fresh graduate, ada di KAMIL. Hal itu memberikan warna sendiri bagi saya ketika berorganisasi di KAMIL, apalagi ketika menjadi ketua.

Walaupun saya telah menjadi ketua KAMIL, saya tetap tidak mengubur mimpi saya di awal tadi. Saya tetap mengikuti berbagai seleksi untuk bisa ke luar negeri, seperti mendaftar exchange ke TU Munchen, University of Tokyo, Hokkaido, Roma, bahkan Maroko. Haha. Agak gila sih. Yang pertama tembus adalah ke Malaysia, walaupun itu hanya nimbrung teman saya-yang super akademisi-peneliti muda berbakat. Alhamdulillah.

Perjalanan mencari kesempatan ke luar negeri pun terus dilakukan hingga saya apply summer school di University of Duisburg-Essen, Jerman. Percaya atau tidak, saya sudah menandai summer school ini sejak tahun sebelumnya, saat deadline-nya sudah lewat. Walaupun sebenarnya tema course-nya agak jauh, lebih ke aquatic environment dan biologi. Tapi saya daftar saja, dengan research plan seadanya, dengan motivation letter penuh “bumbu”, Alhamdulillah diterima.

Sesungguhnya saya sangat tidak menyangka bisa diterima, karena sebetulnya saya hampir terlambat mengirim berkas, atau mungkin sudah terlambat. Tapi sepertinya masih dimaklumi karena faktor perbedaan waktu Jerman – Indonesia. *asumsi

Alhamdulillah bisa berangkat ke Jerman, bahkan saya berangkat dengan Ketua KAMIL sebelumnya. Ternyata beliau juga lolos seleksi ke Essen. MasyaAllah. Saya yakin ini bukan kebetulan. Tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah.

img-20160919-wa0068img-20160919-wa0038Gambar 2. Saat Summer School di Essen

***

Sungguh ini benar-benar curhat ya. Maafkan.

Tapi yang saya ingin sampaikan adalah bergabung di KAMIL tidak menjadi hambatan bagimu untuk tetap mencapai impianmu. Bagi saya tidak ada yang salah dengan bermimpi, walaupun mungkin itu terkadang gila dan bisa ‘membunuhmu’. Mungkin ini yang terjadi ketika saya berangkat ke Toyohashi, sungguh terasa beban menumpuk di kepala dengan campur aduk rasa bersalah.

Saya juga ingin bilang bahwa jangan takut untuk bergabung di KAMIL. Saya yang tadinya menghindar dengan susah payah pun ternyata menikmati aktivitas di KAMIL setelah bergabung di dalamnya. Orang-orang di dalamnya sangat menyenangkan dan bersahabat. Tak perlu takut merasa beda sendiri, tak perlu merasa “Aku mah apa atuh butiran debu”, tak perlu merasa KAMIL hanya untuk anak-anak yang dulunya rohis saja atau yang jilbabnya panjang saja. Di KAMIL isinya beragam. Dari yang ustadz banget, anak gunung, anak lab, anak Dota, anak anime, semuanya ada di KAMIL, dan dari mereka semua, kita bisa belajar banyak hal.

pengurus
Gambar 3. Pengurus KAMIL 2016-2017

Jadi, jangan ragu gabung KAMIL!
Yang jelas kita sama-sama manusia yang sedang berusaha memperbaiki diri, sambil mencoba berbagi kebermanfaatan dengan mahasiswa lainnya, dengan memaksimalkan potensi yang kita punya. Bukankah ketika mendekati-Nya sejengkal, Dia akan mendekati kita sehasta? Semoga Allah senantiasa memberi kita semua keikhlasan.

***

Anyway,

Saya menulis ini ketika H-2 kepengurusan KAMIL 2016 berakhir, ketika pikiran tak tentu karena belum kunjung bertemu dosen pembimbing, ketika grup BPH mulai riuh-rendah membicarakan perpisahan.

b25139-as-6
Gambar 4. BPH KAMIL 2016-2017 (yang bahagia)

Saya akan merindukan rapat-rapat BPH yang menyenangkan, lika-liku ADIWIDYA yang menguras pikiran, candaan-candaan garing di grup, dan segala macam proker yang luar biasa telah dijalankan oleh segenap pengurus KAMIL. Apresiasi tertinggi bagi BPH KAMIL 2016 yang sangat tahan banting dengan skill-nya yang begitu kompeten, Rahmat, Asiyah, Afid, Kak Ina, Suci, Kak Lia, Khalis, Kak Nurul, Mas Azhari, Bima, Teh Isma, Mas Tyan, Mbak Millah, Allan, Irma, Barra, Kak Anti, dan seluruh pengurus KAMIL, saya banyak belajar dari kalian semua. Kalau saya hanya sendiri, mungkin saya hanya akan terlindas pergolakkan zaman. Salam hormat juga untuk Dewan Penasehat Organisasi KAMIL, Pak Azrul, Mas Dedi, Mas Fawzi, dan tentu saja untuk Dosen Pembina KAMIL terbaik, Ibu Dewi Larasati.

Salam hangat dari saya, hamba Allah yang tertawan dosanya, yang banyak khilafnya, sedikit ilmunya, yang hanya ingin berbagi secuil hikmah peristiwa kehidupannya. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.

Bandung, 26 Januari 2017
Firdha Cahya Alam
S2 Teknik Lingkungan ITB 2015
Ketua Umum KAMIL Pascasarjana ITB 2016-2017
‘Demisioner’

***

Disclaimer.
Tulisan ini seharusnya ada di Pustaka KAMIL (Buku Terbitan Kepengurusan 2016), but dipost duluan di sini karena sedang open recruitment kepengurusan 2017-2018. hehehe
klik bit.ly/yukjoinkamil2017 

Cerita I’tikaf

Posted on Updated on

I’tikaf bagi saya bukan hanya tentang ibadah di malam hari, bukan hanya tentang berdiam diri di masjid, tapi i’tikaf seolah bagai suatu momen pribadi yang tepat untuk merumuskan rencana kehidupan, momentum untuk istirahat sejenak dari urusan dunia yang tidak ada habisnya, mengalokasikan waktu khusus di masjid untuk beribadah kepada Allah SWT.

Pengalaman i’tikaf di dua ramadhan terakhir, membuat saya menemukan berbagai tipe orang yang sedang melakukan i’tikaf. Dari mulai orang yang sedang bingung merumuskan masa depan; orang yang sedang diberikan berbagai ujian; orang yang sedang Tugas Akhir tapi tak kunjung selesai; orang yang berkutat dengan lamaran kerja yang tak juga tembus; bahkan ada juga yang sedang dalam proses menuju pernikahan. Saya saksikan betul bagaimana i’tikaf ini menjadi saat yang tepat untuk perenungan dan do’a yang mendalam bagi orang-orang tersebut.

Saya pun menyaksikan dinamika kehidupan seseorang, ketika sedang dalam keadaan naik dan turun, terjadi di i’tikaf ini. Yang tahun lalu sedang dilanda kesulitan perkuliahan dan Tugas Akhir, tahun ini sudah bekerja di perusahaan ternama dengan proses penerimaan yang tidak terduga. Yang tahun lalu kebingungan karena belum diterima kerja, tahun ini akhirnya mendapat kerja setelah perjuangan panjang. Yang tahun lalu sedang kebingungan atas jawaban do’anya, tahun ini ia mendapatkan jawaban dari do’anya dengan cara yang tidak terduga. Betapa indahnya rencana Allah untuk hamba-Nya, saya semakin yakin bahwa Allah memang benar-benar sebaik-baik perencana.

Di sisi lain, saya pun selalu kagum dengan para bapak yang kuat dan tangguh untuk melakukan i’tikaf. Dengan usia yang tidak lagi muda, semangat mereka dalam beribadah sangat luar biasa. Kadang saya merasa, apakah usia kita bisa sepanjang bapak itu? Dan apakah jika usia kita bisa sepanjang bapak itu, bisakah kita giat beribadah seperti mereka? Ya, sebuah renungan untuk kita bersama.

Akhir cerita, saya menyarankan kepada para pembaca, untuk meluangkan waktu tidak hanya di malam hari untuk beri’tikaf, tapi cobalah hingga benar-benar dari pagi hingga pagi lagi berada di masjid. Bagi yang bekerja mungkin ada kesulitan, tapi bagi yang luang saya sangat merekomendasikan untuk benar-benar mengisi waktu kita lebih banyak di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. Jika tidak bisa 10 hari penuh, cobalah minimal 1 hari saja. InsyaAllah hal berbeda akan pembaca rasakan.

Mungkin kurang tepat ya di-post saat ini, tapi semoga tetap bisa menjadi referensi untuk rencana Ramadhan selanjutnya 🙂

Semoga Allah mengampuni segala dosa kita. Semoga Allah menerima segala amal kebaikan kita. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya. Aamiin.

***

IMG-20160714-WA0010
with partner-in-crime i’tikaf biofarma

First Flight: Malaysia

Posted on Updated on

18 Mei – 20 Mei 2016

This was my first flight, but I’m not so happy on that day because I used my friend’s money for the accommodation, conference fee, etc. Lol. Because of the funding from the study program was not released yet at those days.

Thanks to my friend Bima, he is my friend that I accompanied to Kuala Lumpur, he is kind of a person that quiet crazy to get his dreams.

Well, let’s talk about what happen in the journey…. in Bahasa. Haha. And I will talk briefly. Here we go.

***

Hal menarik yang saya alami saat pertama kali menggunakan pesawat adalah kekaguman pada awan yang sangat indah, melihat lautan luas dan pulau-pulau, melihat gedung-gedung dan jalanan yang mengecil seiring semakin tingginya pesawat, memunculkan lintasan pikiran akan kecilnya diri kita, kebesaran Allah yang Maha Kuasa yang mudah saja untuk melakukan apapun pada langit, bumi, dan seisinya. Betapa seringnya diri ini lupa.

Sesampainya di bandara, kami “disambut” dengan tulisan-tulisan berbahasa Malaysia yang terlihat lucu bagi orang Indonesia. Selain itu, saya pun disuguhi sistem transportasi umum yang lebih nyaman, dan orang-orang yang terlihat lebih sabar di jalanan. Haha, entahlah. Tapi tetap saja, saya merasa kondisi sekilas perkotaannya nampak seperti Jakarta digabung Bandung. Seharusnya Jakarta atau Bandung pun bisa membuat sistem transportasi semacam ini.
Semoga.

Hal unik lain adalah sering sekali terlihat orang keturunan India di sepanjang perjalanan, sepertinya mereka benar-benar melakukan diaspora di berbagai belahan dunia.

***

Di Kuala Lumpur, lebih tepatnya di Chinatown, kami menginap di suatu penginapan backpacker (Backpacker traveler’s Inn) yang ada di atas suatu rumah makan Chinese. Tempatnya cukup nyaman. Terlihat banyak bule yang juga tinggal di sana. Fasilitas yang menarik bagi orang teknik lingkungan pada penginapan ini adalah adanya sistem recycle water, rainwater harvesting, dan juga pemilahan sampah.

Di sekitar penginapan, kami menemukan mushola kecil setelah bertanya pada orang-orang sekitar. Di mushola tersebut, kami bertemu dengan seorang Jamaah Tabligh yang menjadi imam. Kami mengobrol ringan dengan imam tersebut seputar asal dari mana, sedang melakukan apa, dan seterusnya, hingga berujung pada ajakan untuk “pergi” selama 4 bulan. Kami hanya tersenyum dan terkagum mendengar ceritanya dalam berdakwah di daerah Chinatown tersebut.

Oh ya, sesungguhnya kami datang ke Malaysia untuk conference. Lebih tepatnya, saya menemani Bima untuk conference. Haha. Karena dia yang menjadi first author dan melakukan presentasi. Saya tentu saja tetap mengikuti jalannya conference, tetapi fokus saya saat itu adalah untuk menambah relasi dan “mencontek” bagaimana penyelenggaraan conference di sana.

Ketika telah berada di conference, kami berkenalan dengan orang-orang Indonesia (lagi) yang bertemu di sana, orang Malaysia, dan ada juga orang India. Satu hal yang agak lucu saat berkenalan dengan orang Malaysia adalah ketika kami bertanya tentang social media yang digunakan. Saat kami menyebut “path” dengan “pét”, mereka tidak paham. Ternyata, cara membaca “path” menurut google translate adalah “paat”. Mungkin aksen British ya. Haha. *pembelaan*

Saat conference kami bertemu Professor dari India. Beliau sangat senang melakukan conference. Baginya, selain untuk publikasi hasil research, dia juga dapat sambil berjalan-jalan. Kami pun tertawa dan meng-iya-kan.

Selesai conference, kami bertemu dengan panitia penyelenggara, dan bertanya pada mereka tentang persiapan conference ini. Mereka bercerita tentang panjangnya proses persiapan yang sekitar satu tahun. Namun, mereka bisa mengadakan conference ini dengan jumlah panitia yang tidak begitu banyak. Kami kagum, mereka melakukan kerja efisien.

***

Sepanjang conference, saya sebetulnya agak terusik dengan hingar-bingar yang ada. Saya merasa bahwa, “Beginikah dunia akademisi?”

Haha. Jangan takut, saya tidak menyalahkan. Dunia lain pun saya rasa tidak berbeda jauh hingar-bingarnya. Saya pun terus mendiskusikan ini dengan Bima dari semenjak conference. Hingga pada suatu titik, di akhir perjalanan pulang, saya berkesimpulan:

“Mau jadi apapun kamu. Tidak mengapa, jalani saja, asalkan itu pekerjaan yang halal.”

Misalnya, bagaimana jadinya jika di dunia ini tidak ada yang mau jadi pramugari. Semua pramugari merasa pekerjaan ini tidak cocok untuk mereka. Apa jadinya?

Atau penjual di Chinatown, apa jadinya jika mereka semua bosan dengan pekerjaan mereka? Bagaimana jika mereka semua memutuskan untuk hidup untuk berjalan-jalan saja selamanya?

Apa jadinya juga jika semua orang mau jadi entrepreneur? Lalu tidak ada yang mau bekerja kantoran, tidak ada yang mau bekerja di industri. Apa jadinya?

Begitu juga dengan pekerjaan seorang saintis, seorang peneliti, mungkin tidak semua orang merasa pekerjaan ini cocok dengan mereka, tapi itu tidak berarti apa yang dilakukan para peneliti itu salah. Tidak ada pekerjaan yang salah selama itu halal. Tidak perlu saling membandingkan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lain. Lakukan saja yang terbaik di bidang yang Anda senangi, yang Anda geluti. Niatkan pekerjaan tersebut untuk ibadah dan menjadi jalan untuk menjemput rizki yang berkah.

Ya. Hanya renungan singkat dalam perjalanan.

***

Terakhir, sebagai tambahan (dan hiburan), saya tampilkan beberapa foto kegiatan selama di sana, dan foto beberapa hal yang saya rasa unik. Semoga cerita ini bermanfaat 🙂

Belajar IELTS Tanpa Les

Posted on Updated on

Saya akan berbagi sedikit tentang pengalaman saya mengikuti tes IELTS tanpa mengikuti les. Saya yakin ketika pembaca ikut les akan ada poin plus yang didapatkan, tetapi saya menulis di sini untuk berbagi pada para pembaca yang sedang menghemat anggaran tetapi perlu mengikuti tes IELTS. Hehe.

Saya juga menulis ini sebagai bentuk rasa terima kasih saya pada sahabat dan teman-teman yang telah membantu saya ketika belajar IELTS 🙂

***

Saya mendaftar tes IELTS pada akhir Desember untuk mengikuti tes pada tanggal 31 Januari 2015. Artinya, saya mempunyai waktu kurang lebih satu bulan untuk mempersiapkan tes. Setelah galau beberapa lama akan ikut les atau tidak, saya memutuskan tidak ikut les. Saya pun bertanya pada teman-teman saya yang sudah mengikuti IELTS tentang bagaimana persiapan mereka dan apa yang harus saya lakukan. Setelah mendapat tips dan wejangan, berikut beberapa hal yang saya lakukan:

  1. Menonton Film Berbahasa Inggris

Ini adalah hal pertama yang saya lakukan. Kocak sih, karena pada saat awal saya tiba-tiba hilang motivasi karena saat itu bertepatan dengan libur akhir tahun. Haha. Bukan untuk ditiru. Sehingga saya mencari motivasi belajar adalah dengan menonton film, dengan niat untuk melatih listening, membiasakan mendengar percakapan bahasa inggris untuk memudahkan juga saat speaking. Saya merasa cukup bermanfaat walaupun terkadang (atau seringnya) saya fokus pada isi ceritanya.

Saran saya, tonton film-film Pixar, Disney, Dreamworks, dan sejenisnya. Selain bahasa yang lebih mudah dipahami, konten filmnya pun bermanfaat 😀

  1. Berlatih dari soal-soal Cambridge IELTS

Saya mendapatkan file-file IELTS Cambridge dari teman-teman saya. Dari mulai Cambridge 1 sampai Cambridge 9. Isinya soal-soal tes IELTS lengkap dari mulai Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Soal-soal dari Cambridge jilid akhir (Cambridge 7, 8, 9) yang lebih mendekati soal IELTS yang sebenarnya, sehingga utamakan mengerjakan dari edisi akhir terlebih dahulu. Sebetulnya cara belajar setiap section berbeda-beda, misalnya:

Listening: Bisa dilakukan mandiri, sudah ada file audio-nya, sering-sering saja mengerjakan soal mandiri. Jika sudah selesai mencoba, mencocokkan jawaban, coba juga mendengarkan kembali audio sambil melihat text-nya. Walaupun saya jarang melakukan ini.
Reading: Sama juga bisa dilakukan mandiri. Melatih kita untuk kuat membaca teks panjang. Biasanya soal IELTS itu berurut, pertanyaan pertama akan muncul di paragraf-paragraf awal.
Writing: ini perlu berlatih bersama atau mandiri juga bisa, tetapi lebih disarankan bersama teman-teman yang lain agar ada yang bisa mengkoreksi tulisan kita. Beberapa poin penting: struktur esay harus ada dan pertanyaan pada soal terjawab.
Speaking: tentu saja simulasi speaking bersama teman yang lain. Setelah simulasi –atau bahkan saat simulasi- mintalah feedback dari partner simulasi kita. Jika perlu rekamlah suara kita ketika sedang simulasi, untuk memperhatikan apa saja kekurangan kita ketika speaking.

Kita pun perlu membiasakan untuk mengerjakan tiga section (listening-reading-writing) dalam satu kali duduk. Hal ini membantu melatih otak dan mental kita untuk ditekan dalam waktu kurang lebih 2-3 jam tanpa jeda, seperti layaknya tes yang sebenarnya. Saya sebenarnya baru melakukan ini di minggu akhir menjelang tes. Bukan untuk ditiru. Tetapi usahakan intensif belajar setiap hari.

  1. Belajar dalam Kelompok Kecil

Setiap orang punya cara belajar yang berbeda, tetapi bagi saya belajar dengan kelompok kecil sangat membantu. Carilah teman-teman yang akan mengikuti tes IELTS juga kemudian belajar bersama mereka. Utamakan waktu yang digunakan untuk berlatih Speaking dan Writing. Sempat juga kami berlatih Spelling dan tebak-tebakan dalam bahasa inggris, ketika terasa bosan mengerjakan soal Cambridge.

  1. Menonton video tips IELTS dari berbagai channel di Youtube

Ada-Banyak-Sekali video tips IELTS di Youtube. Favorit saya adalah British Council Teaching dan goodatesl. Banyak juga contoh-contoh tes IELTS dengan berbagai bandscore, IELTS Speaking band 7, IELTS writing band 8, dan sebagainya. Tonton dan coba praktikkan tipsnya.

  1. Berdo’a dan Meminta Dido’akan

Ini tips paling penting. Saya merasa nilai yang saya dapatkan merupakan karunia Allah. Saat tes berlangsung, saya sempat menembak jawaban beberapa soal Reading, saat Writing ada kalimat yang tidak sempat diperbaiki karena kehabisan waktu, saat Speaking: oh saya terbata-bata. Saya merasa nilai saya tidak akan bagus-bagus amat, sudah menyiapkan mental juga dengan kemungkinan terburuk, tetapi Alhamdulillah nilainya cukup T_T.

Beberapa tips lain:

  1. Coba coret-coret dulu soal tesnya sebelum Listening. Tandai yang penting. Bulatkan nomor soal agar tidak tertukar dengan teks soal.
  2. Saat Reading usahakan mengerjakan semuanya secepat mungkin, kemudian sisihkan waktu untuk memeriksa kembali. (saya sih gak sanggup saat itu, keburu mabok duluan)
  3. Jika kamu suka membaca, coba baca novel berbahasa inggris atau berita berbahasa inggris. (saya baru baca satu novel, berita jarang)
  4. Install Flipboard atau Apps berita lain agar sering membaca. (baru install Flipboard, tapi lelet internet di hape awak)
  5. Buka blog-blog IELTS, seperti IELTS Simon yang memberikan contoh-contoh esay dengan berbagai bandscore.
  6. Download BBC podcast, agar terbiasa dengan aksen UK
  7. Dan lain-lain

Semua tips ini hanya berdasarkan pengalaman. Banyak tips yang berasal dari teman-teman saya. Saya hanya menuliskan saja di sini. Para pembaca seharusnya punya cara sendiri dalam belajar, tetapi mungkin yang belum menemukan caranya bisa mencoba beberapa tips yang sudah dijelaskan.

Semoga bermanfaat 😀

***

Terima kasih penulis ucapkan pada teman-teman yang membantu:

Hafidz: yang sudah me-review materi les IELTS-nya, nge-print soal-soal Cambridge, menjembatani ke Geng Belajar PMP (Practice Makes Perfect)
Ahim: geng PMP yang paling sering bantu simulasi speaking sampai saat-saat terakhir
Eja, Nden, Prima, Mari, Kak Aldi, Harish: geng PMP yang semangat sekali belajarnya
Fathah: yang minjemin novel trus malah jadi lecek 😦
Afif, Zahrina, Ajang: yang sudah berbagi file IELTS yang bergiga-giga
Ucon, Roro, Cia: yang membantu simulasi speaking ketika di prodi

TERIMA KASIH