itb

Jangan Ragu Gabung KAMIL!

Posted on Updated on

Setelah istikharah panjang mencari petunjuk kuliah di ITB atau tidak, maka saya memutuskan untuk kuliah di ITB. Kita lihat saja ke depan akan jadi seperti apa, setidaknya jurusan saya berbeda dengan yang dulu, dari Kimia ke Teknik Lingkungan. Jadi lingkungan sekitar saya akan berbeda sekarang. Seharusnya saya tidak akan begitu bosan. Pikir saya saat itu.

***

Ketika momen daftar ulang mahasiswa baru, saya bertemu dengan kakak kelas yang sudah saya kenal sebelumnya. Ah, saya sudah sadari betul, dia mengikuti organisasi yang bernama “KAMIL”, Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarjana ITB, semacam GAMAIS saat S1 dulu. Saya melihat kakak tersebut menghampiri saya selesai daftar ulang di Sabuga, dan saya menghindar. Ya, saya menghindar, bahkan keluar dari pintu yang seharusnya bukan pintu keluar.

Jika boleh jujur, saya berencana untuk memfokuskan diri pada hal lain saat S2, mengejar mimpi-mimpi yang belum tercapai saat S1 dan pasca S1 dulu. Saya ingin lebih memfokuskan diri di akademik dan keprofesian, saya ingin menjadi professional yang memiliki banyak pengalaman. Terdengar egois kah? Haha. Tapi itulah yang saya pikirkan kala itu.

Sesungguhnya, saya bukan tipikal akademisi. Saat mendengar doktrin yang diberikan saat Sidang Terbuka bahwa kita harus banyak publikasi jurnal ilmiah, prosiding, dan sebagainya, saya hanya bergeming. Hati saya tidak bergetar sama sekali. Apakah ini tanda saya tidak cocok menjadi dosen? Entahlah. Yang jelas, berusaha menjadi professional adalah pilihan cita-cita yang saya ambil kala itu.

***

Hari demi hari saya jalani perkuliahan di S2 Teknik Lingkungan ITB, saya yang saat ini belum mendapatkan beasiswa, kesibukan sehari-harinya adalah mencari info beasiswa, ataupun info lomba, yang bisa menambah penghasilan. Tapi ya alhamdulillah, dari sekian lomba yang sederhana seperti lomba foto umum, lomba blog, belum ada yang berhasil saya menangi. Saya pun rasanya belum mencoba banyak lomba kala itu.

Pun beasiswa, sudah saya coba berbagai beasiswa tapi tak tembus juga. Yang saya yakini, rezeki tidak akan tertukar, jadi ya hajar saja, coba saja dulu. Dari mulai beasiswa pemprov jabar, Panasonic, pemprov jabar lagi, Beasiswa Unggulan, pemprov jabar lagi-lagi. Ternyata tidak ada yang tembus hingga menjadi awardee. Ya alhamdulillah syukuri saja, yang penting sudah mencoba.

Mimpi-mimpi saya yang lain adalah saya ingin bisa ke luar negeri. Saya bertekad dalam diri bahwa, walaupun tidak jadi kuliah di luar negeri untuk saat ini, saya tetap harus bisa ke luar negeri, entah exchange, conference, magang, atau apapun juga. Sehingga info-info study visit ke luar negeri tak juga luput dari mesin pencarian sehari-hari.

***

Well, untuk menjaga semangat, saya membuat grup bersama beberapa teman di Teknik Lingkungan (TL). Sebenarnya itu teman main saja, tapi di sana saya sering sekali share setiap info yang berkaitan dengan lomba, beasiswa, exchange, dan sejenisnya. Saya pikir mereka punya keinginan yang sama, ternyata berbeda. Ada yang lebih memilih kerja dan mempertanyakan kehidupan, ada yang super akademisi-peneliti-tiada henti, ada lagi yang hidupnya mengalir di alur game tengah malam. Haha.

img_5534Gambar 1. Random people di TL

Setidaknya hidup kami berjalan seperti itu adanya hingga suatu saat….

Info Training Calon Pengurus (TCP) KAMIL bertebaran dimana-mana, termasuk di grup TL. Entah bagaimana ceritanya salah satu dari kami tertarik untuk datang ke sana, and I feel like… “What? Seriously? Pada datang kah?” Saya tak tahu kenapa dia mengajak kami, yang jelas dia merasa bahwa ini bagus untuknya. Saya berpikir, “Baiklah, sekali saja tak apa.”

Kami pun datang ke acara TCP tersebut. Tak disangka ternyata kami para peserta “training” diminta menjadi panitia sebuah acara, dan tak disangka lagi, sebuah kebetulan (yang sebenarnya tidak ada kebetulan di dunia ini), saya terpilih menjadi ketua panitia. Speechless.

Bisa dibayangkan, saya yang hanya berniat datang sekali, bantu-bantu jadi seksi publikasi dokumentasi saja, dan mencoba menemani teman yang dapat hidayah (haha insyaAllah ya alhamdulillah), tiba-tiba menjadi ketua panitia.

***

Perjalanan menjadi ketua panitia pun dilalui. Berasa kembali seperti S1 dulu. Hanya mungkin dengan gaya yang berbeda karena memimpin orang dengan background usia yang tidak lagi sama.

Namun ternyata, kehidupan di KAMIL belum usai. Tiba-tiba saya dihubungi salah satu Pengurus Harian (PH) KAMIL 2015 untuk mendaftar menjadi calon ketua KAMIL 2016. Anda bisa bayangkan?

Alasan terbaik (untuk menolak) sudah saya siapkan, “Punten kang, saya ada rencana exchange 6 bulan ke Denmark. Jadi sepertinya gabisa.” Haha. Saya belum apply sesungguhnya, tetapi rencana ke Eropa memang sudah saya plot dari sejak lama.

Kembali ke tawaran mendaftar calon ketua KAMIL, chat berlanjut hingga berujung pada pernyataan dari PH yang menghubungi saya tersebut yang membuat saya tidak berkutik, walaupun saya lupa apa itu. Ditambah lagi dengan whatsapp dari guru saya yang membuat saya makin tidak berkutik. Hingga akhirnya, bismillah saya coba ikuti proses seleksi ketua KAMIL saat itu. Toh masih ada kesempatan gagal. Proses diikuti dari submit berkas, fit and proper test, uji publik (hearing), musyawarah akbar, dan ternyata…. Innalillahi… malah terpilih.

***

Masa-masa menjadi ketua KAMIL pun dimulai. Seperti yang saya bilang sebelumnya, di KAMIL kita beraktivitas dengan orang-orang  dengan latar usia yang beragam. Dari angkatan 2005 sampai 2011 ada di sini, dari yang sudah punya anak dua, wanita karir, PNS, fresh graduate, ada di KAMIL. Hal itu memberikan warna sendiri bagi saya ketika berorganisasi di KAMIL, apalagi ketika menjadi ketua.

Walaupun saya telah menjadi ketua KAMIL, saya tetap tidak mengubur mimpi saya di awal tadi. Saya tetap mengikuti berbagai seleksi untuk bisa ke luar negeri, seperti mendaftar exchange ke TU Munchen, University of Tokyo, Hokkaido, Roma, bahkan Maroko. Haha. Agak gila sih. Yang pertama tembus adalah ke Malaysia, walaupun itu hanya nimbrung teman saya-yang super akademisi-peneliti muda berbakat. Alhamdulillah.

Perjalanan mencari kesempatan ke luar negeri pun terus dilakukan hingga saya apply summer school di University of Duisburg-Essen, Jerman. Percaya atau tidak, saya sudah menandai summer school ini sejak tahun sebelumnya, saat deadline-nya sudah lewat. Walaupun sebenarnya tema course-nya agak jauh, lebih ke aquatic environment dan biologi. Tapi saya daftar saja, dengan research plan seadanya, dengan motivation letter penuh “bumbu”, Alhamdulillah diterima.

Sesungguhnya saya sangat tidak menyangka bisa diterima, karena sebetulnya saya hampir terlambat mengirim berkas, atau mungkin sudah terlambat. Tapi sepertinya masih dimaklumi karena faktor perbedaan waktu Jerman – Indonesia. *asumsi

Alhamdulillah bisa berangkat ke Jerman, bahkan saya berangkat dengan Ketua KAMIL sebelumnya. Ternyata beliau juga lolos seleksi ke Essen. MasyaAllah. Saya yakin ini bukan kebetulan. Tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah.

img-20160919-wa0068img-20160919-wa0038Gambar 2. Saat Summer School di Essen

***

Sungguh ini benar-benar curhat ya. Maafkan.

Tapi yang saya ingin sampaikan adalah bergabung di KAMIL tidak menjadi hambatan bagimu untuk tetap mencapai impianmu. Bagi saya tidak ada yang salah dengan bermimpi, walaupun mungkin itu terkadang gila dan bisa ‘membunuhmu’. Mungkin ini yang terjadi ketika saya berangkat ke Toyohashi, sungguh terasa beban menumpuk di kepala dengan campur aduk rasa bersalah.

Saya juga ingin bilang bahwa jangan takut untuk bergabung di KAMIL. Saya yang tadinya menghindar dengan susah payah pun ternyata menikmati aktivitas di KAMIL setelah bergabung di dalamnya. Orang-orang di dalamnya sangat menyenangkan dan bersahabat. Tak perlu takut merasa beda sendiri, tak perlu merasa “Aku mah apa atuh butiran debu”, tak perlu merasa KAMIL hanya untuk anak-anak yang dulunya rohis saja atau yang jilbabnya panjang saja. Di KAMIL isinya beragam. Dari yang ustadz banget, anak gunung, anak lab, anak Dota, anak anime, semuanya ada di KAMIL, dan dari mereka semua, kita bisa belajar banyak hal.

pengurus
Gambar 3. Pengurus KAMIL 2016-2017

Jadi, jangan ragu gabung KAMIL!
Yang jelas kita sama-sama manusia yang sedang berusaha memperbaiki diri, sambil mencoba berbagi kebermanfaatan dengan mahasiswa lainnya, dengan memaksimalkan potensi yang kita punya. Bukankah ketika mendekati-Nya sejengkal, Dia akan mendekati kita sehasta? Semoga Allah senantiasa memberi kita semua keikhlasan.

***

Anyway,

Saya menulis ini ketika H-2 kepengurusan KAMIL 2016 berakhir, ketika pikiran tak tentu karena belum kunjung bertemu dosen pembimbing, ketika grup BPH mulai riuh-rendah membicarakan perpisahan.

b25139-as-6
Gambar 4. BPH KAMIL 2016-2017 (yang bahagia)

Saya akan merindukan rapat-rapat BPH yang menyenangkan, lika-liku ADIWIDYA yang menguras pikiran, candaan-candaan garing di grup, dan segala macam proker yang luar biasa telah dijalankan oleh segenap pengurus KAMIL. Apresiasi tertinggi bagi BPH KAMIL 2016 yang sangat tahan banting dengan skill-nya yang begitu kompeten, Rahmat, Asiyah, Afid, Kak Ina, Suci, Kak Lia, Khalis, Kak Nurul, Mas Azhari, Bima, Teh Isma, Mas Tyan, Mbak Millah, Allan, Irma, Barra, Kak Anti, dan seluruh pengurus KAMIL, saya banyak belajar dari kalian semua. Kalau saya hanya sendiri, mungkin saya hanya akan terlindas pergolakkan zaman. Salam hormat juga untuk Dewan Penasehat Organisasi KAMIL, Pak Azrul, Mas Dedi, Mas Fawzi, dan tentu saja untuk Dosen Pembina KAMIL terbaik, Ibu Dewi Larasati.

Salam hangat dari saya, hamba Allah yang tertawan dosanya, yang banyak khilafnya, sedikit ilmunya, yang hanya ingin berbagi secuil hikmah peristiwa kehidupannya. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.

Bandung, 26 Januari 2017
Firdha Cahya Alam
S2 Teknik Lingkungan ITB 2015
Ketua Umum KAMIL Pascasarjana ITB 2016-2017
‘Demisioner’

***

Disclaimer.
Tulisan ini seharusnya ada di Pustaka KAMIL (Buku Terbitan Kepengurusan 2016), but dipost duluan di sini karena sedang open recruitment kepengurusan 2017-2018. hehehe
klik bit.ly/yukjoinkamil2017 

Advertisements

Semester 3 – S2 TL ITB

Posted on Updated on

Semester 3 di TL ITB merupakan tahap yang sangat berkesan bagi saya. Mengapa? Karena di semester 3 merupakan puncak dari kegiatan KAMIL Pascasarjana ITB, rasanya hampir setiap pekan ada acara. Sepertinya saya lebih sibuk di Kamil daripada di prodi. Haha. Selain itu, alhamdulillah juga di semester 3 ini bisa tercapai impian ke Eropa, sungguh Allah sebaik-baik pembuat rencana. Mungkin saya bahas ini di tulisan lain. Mungkin.

***

Semester 3 sebetulnya didesain bagi kita untuk memilih mata kuliah yang mendukung tesis kita. Jika kita ingin mengambil tesis tentang air, maka wajarnya orang akan banyak mengambil mata kuliah tentang air. Jika topik tesis tentang udara, tentu orang tersebut akan banyak mengambil mata kuliah berkaitan dengan udara. Namun, kenyataanya itu hanya teori. Banyak dari kita mengambil mata kuliah tidak melulu menyesuaikan tesis kita. “Atau mungkin hanya saya saja?”

Saya mengambil mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara, Rekayasa Air Berkelanjutan, dan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sangat random. Sebetulnya itu didasarkan karena saya yang S1-nya bukan TL, sehingga saya ingin belajar juga ilmu-ilmu lain yang tidak didapatkan ketika S1. Oleh karena itu, saya ingin memanfaatkan semester 3 ini sebaik mungkin untuk menjadi mahasiswa TL seutuhnya. Jadilah saya mengambil kuliah tentang air, udara, dan B3 (bukan tanah atau api). Namun, realitanya secara akumulatif saya tidak masuk kelas sampai kurang lebih satu bulan karena exchange tersebut, maka materi yang saya dapat secara langsung dari dosen tidak menyeluruh.

Pertama, mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara yang berbicara secara umum mengenai bagaimana kita mengelola kualitas udara, dari mulai prinsip dasar, skema air quality management, cara membuat kebijakan yang berdasarkan sains, cara perhitungan konsentrasi kualitas udara, pengenalan pemantauan kualitas udara, pemodelan kualitas udara, dan sebagainya. Sangat menarik, terutama bagi saya yang belum pernah belajar tentang ini sebelumnya. Hal penting yang saya dapat dari mata kuliah ini adalah, kita belum banyak memperhatikan permasalahan udara, banyak sekali teknologi yang tertinggal, standar kualitas udara pun berbeda dengan standar yang ada sekarang di dunia akibat keterbatasan teknologi tersebut. Selain itu, ada kata-kata yang terngiang dari ibu dosen, kurang lebih begini, “Negara lain sudah sangat memperhatikan hal-hal kecil, sedangkan negara kita, hal-hal besar saja tidak diperhatikan.” Miris.

Rekayasa Air Berkelanjutan, saat itu kami diajarkan tentang bagaimana memanfaatkan lingkungan dengan engineering untuk mendapatkan sumber daya air yang sustainable. Sebagai contoh, ada materi tentang wetland, green infrastructure, pengenalan rain water harvesting, dan berbagai teknologi dan penerapan pengolahan air. Sangat menarik. Poin penting yang saya dapat pada mata kuliah ini adalah sebetulnya ada banyak teknologi yang kita miliki dan bisa kita terapkan, tapi mungkin karena kita merasa “belum butuh”, dan stigma “air masih banyak”, sehingga hal ini tidak begitu diperhatikan.

Terakhir, pada mata kuliah Pengelolaan Limbah B3 kita diajarkan tentang definisi B3, limbah B3, klasifikasi limbah B3, pelabelan limbah B3, berbagai peraturan nasional maupun internasional terkait limbah B3, bahaya limbah B3, dan sebagainya. Poin penting yang saya dapat dari mata kuliah ini adalah ketika di lapangan, terkadang ada banyak “permainan” untuk mengakali limbah B3 ini. Ada yang berusaha agar limbah biasa diminta “diklasifikasikan B3”, atau ada yang berusaha sebaliknya. Hal ini juga salah satunya akibat peraturan yang terkadang kurang sesuai. Ya, memang banyak ironi di negeri ini kan?

Ah ya, satu lagi. Di semester 3 sebetulnya saya sudah mengambil mata kuliah Seminar dan Tesis. Mata kuliah ini bisa kita ambil sejak semester 3 agar semester 4 bisa nol SKS. Nol SKS berarti kita hanya membayar biaya kuliah setengahnya. Hehe. Alasannya tak hanya itu sebenarnya, jika mengambil tesis di semester 3, kita menyiapkan galat untuk lulus Juli atau Oktober dan memacu kita untuk lulus Juli. Hal ini karena jika kita mengambil tesis di semester 4, akan sulit untuk lulus Juli (atau mungkin bisa tapi sepertinya ajaib?) karena prosedur dari pengajuan Uraian Garis Besar (UGB) judul tesis, pengumuman judul tesis dan pembimbing, pembuatan proposal, Seminar 1, bingung-kebanyakan-mikir-mau-ngapain dan tahap-tahap selanjutnya yang membutuhkan waktu tak sebentar. Jadi saran saya tetap ambil tesis semester 3 ya. Hehe.

Mungkin itu saja kisah singkat di semester 3. Semoga bermanfaat bagi para mahasiswa S2 TL, calon mahasiswa, dan para pembaca sekalian. Semoga sukses!

Janji

Posted on Updated on

Melihat video itu, ah lebih tepatnya melihatnya di TV pada tanggal 1 Oktober lalu membuat saya mengingat kembali masa ketika wisuda. Lebih tepatnya masa ketika pembacaan “Janji Lulusan ITB”. Janji yang terasa amat berat ketika diucapkan. Janji yang diucapkan untuk mengabdikan ilmu bagi bangsa Indonesia. Menjadi lulusan yang bermanfaat bagi bangsanya. Itu yang kutangkap dan itu terasa begitu berat.

Kami
Segenap Lulusan
Institut Teknologi Bandung

Berjanji
Akan Mengabdikan Ilmu Pengetahuan
Bagi Kesejahteraan Bangsa Indonesia
Perikemanusiaan dan Perdamaian Dunia

Kami Berjanji akan Mengabdikan Segala Kebajikan Ilmu Pengetahuan
Untuk Menghantarkan Bangsa Indonesia
Ke Pintu Gerbang Masyarakat Adil dan Makmur
yang Berdasarkan Pancasila

Kami Berjanji akan Tetap Setia
Kepada Watak Pembangunan Kesarjanaan Indonesia
dan Menjunjung Tinggi Susila Sarjana
Kejujuran serta Keluhuran Ilmu Pengetahuan
di mana pun Kami Berada

Kami Berjanji
Akan Senantiasa Menjunjung Tinggi
Nama Baik Almamater Kami
Institut Teknologi Bandung

Sebuah pengingat terutama bagi diri sendiri, sudah seberapa bermanfaat diri ini bagi bangsa? bagi orang lain? bagi agama ini?

***

Apalagi mereka,

ya mereka, para wakil kita di DPR, wakil rakyat Indonesia di DPR.

Janji mereka jauh lebih berat lagi, sumpah mereka jauh lebih berat lagi, amanah bangsa Indonesia ada pada mereka. Ah berat sekali rasanya.

Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah/berjanji: bahwa saya, akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota/ketua/wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan; bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

diambil dari: http://www.dpr.go.id/id/tentang-dpr/tata-tertib/bab-3

Dan setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kita ucapkan.

Astaghfirullah

#ntms

Wisuda part 2: Syukwis

Posted on Updated on

Bismillah.

Oke saya tidak akan banyak cerita. Wisuda part 2 bercerita tentang Syukuran Wisuda (syukwis) yang dilaksanakan 11 Juli 2014. Sejujurnya yang paling saya nantikan dari syukwis adalah video dari angkatan :’)

Penayangan video dari angkatan rasanya memang sudah menjadi budaya di syukwis AMISCA. Setiap video yang ditayangkan dari berbagai syukwis yang saya hadiri selalu membuat perasaan campur aduk. Bagaimana tidak? video-video tersebut menjadi video ‘perpisahan’ bagi angkatan yang sudah lulus.

Yang selalu saya pikirkan ketika melihat berbagai video tersebut dari syukwis-syukwis sebelumnya adalah,

“Ah ketika sudah pisah dengan angkatan pasti sangat sedih, waktu berjalan sangat cepat, ayo lakukan yang terbaik buat angkatan, kamu ngapain aja sih selama ini.”

***

Dan waktu itu telah tiba, waktu untuk angkatan kami telah tiba, di malam itu kami melihat video yang dibuat teman-teman akuades yang lain. Tangis terlihat dimana-mana. Senyum haru melihat kembali berbagai kenangan. Ah gak sanggup saya liat orang nangis.

***

Perpisahan pun terjadi. Hari ini pun sudah banyak teman yang kembali ke kampung halamannya dan entah kapan bisa bertemu lagi.

Teman-teman Akuades,

Semoga kita sukses dengan jalan kita masing-masing, bisa bermanfaat buat bangsa, dan yang terpenting, persahabatan ini bisa terus terjaga hingga kakek nenek, bahkan surga 🙂

Terima kasih banyak atas segala kenangannya selama ini. Terima kasih banyak videonya, kalian luar biasa. Segera menyusul lulus geng! SEMANGAT! InsyaAllah bisa!!!

Tetap saling bantu dan menyemangati ya dimanapun kita berada 🙂

***

nb:

Akuades : Nama angkatan Kimia 2010

Ini videonya :’)

part 1:

part 2:

Wisuda part 1

Posted on Updated on

Bismillah.

Alhamdulillah digerakkan untuk menulis juga. Mungkin saya akan menulis lagi tentang kelulusan ini tapi edisi syukuran wisuda (part 2) dan edisi lainnya (part 3). Untuk sekarang saya ingin membahas saat hari wisuda saja 😀

Dua hari sebelumnya kami sudah melakukan proses gladi bersih untuk prosesi wisuda atau sidang terbuka ini, sehingga yang akan kita lakukan di hari-H kurang lebih sudah bisa kami tebak.

Pada hari-H, prosesi sidang terbuka dimulai dengan masuknya rektor dan para dekan fakultas. Prosesi ini terlihat ‘wah’ dan ‘unik’ karena rektor dan para dekan menggunakan toga mereka masing-masing.

Beberapa prosesi selanjutnya di antaranya adalah menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, mengheningkan cipta, hingga pembacaan Janji Wisudawan ITB yang begitu khidmat, kemudian diakhiri menyanyikan lagu “Bagimu Negeri”. Sebetulnya saya merasa lebih ‘wah’ pada saat gladi bersih karena proses tersebut pertama kali dilakukan pada saat gladi bersih.

Selain itu, terdapat pula pidato dari rektor yang begitu menggugah mengenai lulusan ITB yang harus menjadi bagian dalam kemajuan bangsa. Ada pula acara pembacaan biodata dari beberapa teman satu ITB yang lulus dengan predikat cum laude. Luar biasa ini! Bahkan ada wisudawan yang berasal dari keluarga tidak mampu, tapi bisa cum laude, kemudian orang tuanya diminta berdiri dan disaksikan oleh seisi Sabuga. Ini pasti kebanggaan yang luar biasa untuk orang tuanya. Sangat mengharukan. Pak Dekan (kalau tidak salah) yang membacakan biodata pun kurang lebih berpesan, “Wisuda ini kan dipersembahkan untuk orang tua kalian, buatlah mereka bangga.” 🙂
**Buat teman-teman yang masih bisa mengusahakan dirinya untuk cum laude sangat disarankan untuk mengejarnya ya 🙂 saya tidak cum laude soalnya 😐

Selanjutnya ada sesi “Bersalaman juga dengan rektor” yang menghabiskan waktu cukup lama. Sesi ini adalah sesi dengan tutorial dari LFM yakni : badan tegap, jabat tangan, pandangan lurus ke depan (usahakan selama 3 detik), dan tidak membungkuk.Tapi tetap saja ada yang menunduk atau membungkuk :/

Sesi lain dari wisuda kali ini yang sangat mencabik-cabik hati adalah saat sesi do’a. Entah mengapa rasanya seperti ditusuk-tusuk hati ini, karena do’anya kalau tidak salah adalah tentang rasa syukur, bagaimana seharusnya kita bersyukur, bahwa syukur itu dibuktikan dengan ketaatan; berdo’a juga agar ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat untuk agama dan bangsa; bisa membahagiakan orang tua, ingat orang tua; bahwa apa yang didapatkan memang benar-benar kuasa Allah, berdo’a agar mendapatkan keberkahan. Wah, rasanya sangat menghujam do’a yang diucapkan, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua. Aamiin.

Setelahnya, dilakukan sesi foto bersama kaprodi dan rektor, sambil menunggu ternyata Sabuga mulai ramai. Orang-orang yang tadi menunggu di luar mulai masuk ke dalam Sabuga. Suasana senang dan haru terlihat dimana-mana. Sangat ramai! Senang sekali bisa melihat orang senang. Alhamdulillah teman-teman pun banyak yang datang, dari akuades, gamais, geng anor lantai 3, teman TPB, ugreen, wah luar biasa :”)

Kemudian, setelah selesai prosesi wisuda formal, mulai dilakukan arak-arakan. Arak-arakan ini merupakan prosesi yang telah menjadi budaya mahasiswa ITB. Setiap wisudawan diarak keliling kampus oleh himpunannya masing-masing. Arak-arakan ini rasanya sebagai prosesi bahwa wisudawan berbagi kebahagiaan juga dengan massa kampus, bahagia bersama satu ITB, berbagi kebahagiaan pula pada masyarakat dan menunjukkan pada masyarakat bahwa mereka akan berkontribusi pada masyarakat *jleb*. Luar biasa memang, bahkan dahulu seingat saya arak-arakan ini sebetulnya adalah latihan tersembunyi mahasiswa untuk melakukan aksi.

Alhamdulillah rangkaian acara hari ini selesai. Alhamdulillah saya bisa berkesempatan kuliah di ITB, bertemu dengan dosen luar biasa, bertemu teman yang luar biasa seperti kalian. Semoga kita semua bisa sukses dengan jalan kita masing-masing! Tetap jaga silaturahim ya, dan semoga kita bisa bertemu di surga kelak. Aamiin.

***

IMG20140712072241
keluarga

10363893_10202594012505622_5859065263187575919_n
akuades

10551513_824959670849047_4355657976722467927_o
geng anor lantai 3

IMG-20140712-WA0009
my best inspiring friend

IMG-20140713-WA0000
dengan mametos yang tak lengkap -.-

10313911_10204617227057458_8169581281907951706_o
dengan teman-teman ugreen

2014-07-12 16.39.27
dengan imam salman. haha

IMG20140712210141
terima kasih semua!