KAMIL Pascasarjana ITB

Jangan Ragu Gabung KAMIL!

Posted on Updated on

Setelah istikharah panjang mencari petunjuk kuliah di ITB atau tidak, maka saya memutuskan untuk kuliah di ITB. Kita lihat saja ke depan akan jadi seperti apa, setidaknya jurusan saya berbeda dengan yang dulu, dari Kimia ke Teknik Lingkungan. Jadi lingkungan sekitar saya akan berbeda sekarang. Seharusnya saya tidak akan begitu bosan. Pikir saya saat itu.

***

Ketika momen daftar ulang mahasiswa baru, saya bertemu dengan kakak kelas yang sudah saya kenal sebelumnya. Ah, saya sudah sadari betul, dia mengikuti organisasi yang bernama “KAMIL”, Keluarga Mahasiswa Islam Pascasarjana ITB, semacam GAMAIS saat S1 dulu. Saya melihat kakak tersebut menghampiri saya selesai daftar ulang di Sabuga, dan saya menghindar. Ya, saya menghindar, bahkan keluar dari pintu yang seharusnya bukan pintu keluar.

Jika boleh jujur, saya berencana untuk memfokuskan diri pada hal lain saat S2, mengejar mimpi-mimpi yang belum tercapai saat S1 dan pasca S1 dulu. Saya ingin lebih memfokuskan diri di akademik dan keprofesian, saya ingin menjadi professional yang memiliki banyak pengalaman. Terdengar egois kah? Haha. Tapi itulah yang saya pikirkan kala itu.

Sesungguhnya, saya bukan tipikal akademisi. Saat mendengar doktrin yang diberikan saat Sidang Terbuka bahwa kita harus banyak publikasi jurnal ilmiah, prosiding, dan sebagainya, saya hanya bergeming. Hati saya tidak bergetar sama sekali. Apakah ini tanda saya tidak cocok menjadi dosen? Entahlah. Yang jelas, berusaha menjadi professional adalah pilihan cita-cita yang saya ambil kala itu.

***

Hari demi hari saya jalani perkuliahan di S2 Teknik Lingkungan ITB, saya yang saat ini belum mendapatkan beasiswa, kesibukan sehari-harinya adalah mencari info beasiswa, ataupun info lomba, yang bisa menambah penghasilan. Tapi ya alhamdulillah, dari sekian lomba yang sederhana seperti lomba foto umum, lomba blog, belum ada yang berhasil saya menangi. Saya pun rasanya belum mencoba banyak lomba kala itu.

Pun beasiswa, sudah saya coba berbagai beasiswa tapi tak tembus juga. Yang saya yakini, rezeki tidak akan tertukar, jadi ya hajar saja, coba saja dulu. Dari mulai beasiswa pemprov jabar, Panasonic, pemprov jabar lagi, Beasiswa Unggulan, pemprov jabar lagi-lagi. Ternyata tidak ada yang tembus hingga menjadi awardee. Ya alhamdulillah syukuri saja, yang penting sudah mencoba.

Mimpi-mimpi saya yang lain adalah saya ingin bisa ke luar negeri. Saya bertekad dalam diri bahwa, walaupun tidak jadi kuliah di luar negeri untuk saat ini, saya tetap harus bisa ke luar negeri, entah exchange, conference, magang, atau apapun juga. Sehingga info-info study visit ke luar negeri tak juga luput dari mesin pencarian sehari-hari.

***

Well, untuk menjaga semangat, saya membuat grup bersama beberapa teman di Teknik Lingkungan (TL). Sebenarnya itu teman main saja, tapi di sana saya sering sekali share setiap info yang berkaitan dengan lomba, beasiswa, exchange, dan sejenisnya. Saya pikir mereka punya keinginan yang sama, ternyata berbeda. Ada yang lebih memilih kerja dan mempertanyakan kehidupan, ada yang super akademisi-peneliti-tiada henti, ada lagi yang hidupnya mengalir di alur game tengah malam. Haha.

img_5534Gambar 1. Random people di TL

Setidaknya hidup kami berjalan seperti itu adanya hingga suatu saat….

Info Training Calon Pengurus (TCP) KAMIL bertebaran dimana-mana, termasuk di grup TL. Entah bagaimana ceritanya salah satu dari kami tertarik untuk datang ke sana, and I feel like… “What? Seriously? Pada datang kah?” Saya tak tahu kenapa dia mengajak kami, yang jelas dia merasa bahwa ini bagus untuknya. Saya berpikir, “Baiklah, sekali saja tak apa.”

Kami pun datang ke acara TCP tersebut. Tak disangka ternyata kami para peserta “training” diminta menjadi panitia sebuah acara, dan tak disangka lagi, sebuah kebetulan (yang sebenarnya tidak ada kebetulan di dunia ini), saya terpilih menjadi ketua panitia. Speechless.

Bisa dibayangkan, saya yang hanya berniat datang sekali, bantu-bantu jadi seksi publikasi dokumentasi saja, dan mencoba menemani teman yang dapat hidayah (haha insyaAllah ya alhamdulillah), tiba-tiba menjadi ketua panitia.

***

Perjalanan menjadi ketua panitia pun dilalui. Berasa kembali seperti S1 dulu. Hanya mungkin dengan gaya yang berbeda karena memimpin orang dengan background usia yang tidak lagi sama.

Namun ternyata, kehidupan di KAMIL belum usai. Tiba-tiba saya dihubungi salah satu Pengurus Harian (PH) KAMIL 2015 untuk mendaftar menjadi calon ketua KAMIL 2016. Anda bisa bayangkan?

Alasan terbaik (untuk menolak) sudah saya siapkan, “Punten kang, saya ada rencana exchange 6 bulan ke Denmark. Jadi sepertinya gabisa.” Haha. Saya belum apply sesungguhnya, tetapi rencana ke Eropa memang sudah saya plot dari sejak lama.

Kembali ke tawaran mendaftar calon ketua KAMIL, chat berlanjut hingga berujung pada pernyataan dari PH yang menghubungi saya tersebut yang membuat saya tidak berkutik, walaupun saya lupa apa itu. Ditambah lagi dengan whatsapp dari guru saya yang membuat saya makin tidak berkutik. Hingga akhirnya, bismillah saya coba ikuti proses seleksi ketua KAMIL saat itu. Toh masih ada kesempatan gagal. Proses diikuti dari submit berkas, fit and proper test, uji publik (hearing), musyawarah akbar, dan ternyata…. Innalillahi… malah terpilih.

***

Masa-masa menjadi ketua KAMIL pun dimulai. Seperti yang saya bilang sebelumnya, di KAMIL kita beraktivitas dengan orang-orang  dengan latar usia yang beragam. Dari angkatan 2005 sampai 2011 ada di sini, dari yang sudah punya anak dua, wanita karir, PNS, fresh graduate, ada di KAMIL. Hal itu memberikan warna sendiri bagi saya ketika berorganisasi di KAMIL, apalagi ketika menjadi ketua.

Walaupun saya telah menjadi ketua KAMIL, saya tetap tidak mengubur mimpi saya di awal tadi. Saya tetap mengikuti berbagai seleksi untuk bisa ke luar negeri, seperti mendaftar exchange ke TU Munchen, University of Tokyo, Hokkaido, Roma, bahkan Maroko. Haha. Agak gila sih. Yang pertama tembus adalah ke Malaysia, walaupun itu hanya nimbrung teman saya-yang super akademisi-peneliti muda berbakat. Alhamdulillah.

Perjalanan mencari kesempatan ke luar negeri pun terus dilakukan hingga saya apply summer school di University of Duisburg-Essen, Jerman. Percaya atau tidak, saya sudah menandai summer school ini sejak tahun sebelumnya, saat deadline-nya sudah lewat. Walaupun sebenarnya tema course-nya agak jauh, lebih ke aquatic environment dan biologi. Tapi saya daftar saja, dengan research plan seadanya, dengan motivation letter penuh “bumbu”, Alhamdulillah diterima.

Sesungguhnya saya sangat tidak menyangka bisa diterima, karena sebetulnya saya hampir terlambat mengirim berkas, atau mungkin sudah terlambat. Tapi sepertinya masih dimaklumi karena faktor perbedaan waktu Jerman – Indonesia. *asumsi

Alhamdulillah bisa berangkat ke Jerman, bahkan saya berangkat dengan Ketua KAMIL sebelumnya. Ternyata beliau juga lolos seleksi ke Essen. MasyaAllah. Saya yakin ini bukan kebetulan. Tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah.

img-20160919-wa0068img-20160919-wa0038Gambar 2. Saat Summer School di Essen

***

Sungguh ini benar-benar curhat ya. Maafkan.

Tapi yang saya ingin sampaikan adalah bergabung di KAMIL tidak menjadi hambatan bagimu untuk tetap mencapai impianmu. Bagi saya tidak ada yang salah dengan bermimpi, walaupun mungkin itu terkadang gila dan bisa ‘membunuhmu’. Mungkin ini yang terjadi ketika saya berangkat ke Toyohashi, sungguh terasa beban menumpuk di kepala dengan campur aduk rasa bersalah.

Saya juga ingin bilang bahwa jangan takut untuk bergabung di KAMIL. Saya yang tadinya menghindar dengan susah payah pun ternyata menikmati aktivitas di KAMIL setelah bergabung di dalamnya. Orang-orang di dalamnya sangat menyenangkan dan bersahabat. Tak perlu takut merasa beda sendiri, tak perlu merasa “Aku mah apa atuh butiran debu”, tak perlu merasa KAMIL hanya untuk anak-anak yang dulunya rohis saja atau yang jilbabnya panjang saja. Di KAMIL isinya beragam. Dari yang ustadz banget, anak gunung, anak lab, anak Dota, anak anime, semuanya ada di KAMIL, dan dari mereka semua, kita bisa belajar banyak hal.

pengurus
Gambar 3. Pengurus KAMIL 2016-2017

Jadi, jangan ragu gabung KAMIL!
Yang jelas kita sama-sama manusia yang sedang berusaha memperbaiki diri, sambil mencoba berbagi kebermanfaatan dengan mahasiswa lainnya, dengan memaksimalkan potensi yang kita punya. Bukankah ketika mendekati-Nya sejengkal, Dia akan mendekati kita sehasta? Semoga Allah senantiasa memberi kita semua keikhlasan.

***

Anyway,

Saya menulis ini ketika H-2 kepengurusan KAMIL 2016 berakhir, ketika pikiran tak tentu karena belum kunjung bertemu dosen pembimbing, ketika grup BPH mulai riuh-rendah membicarakan perpisahan.

b25139-as-6
Gambar 4. BPH KAMIL 2016-2017 (yang bahagia)

Saya akan merindukan rapat-rapat BPH yang menyenangkan, lika-liku ADIWIDYA yang menguras pikiran, candaan-candaan garing di grup, dan segala macam proker yang luar biasa telah dijalankan oleh segenap pengurus KAMIL. Apresiasi tertinggi bagi BPH KAMIL 2016 yang sangat tahan banting dengan skill-nya yang begitu kompeten, Rahmat, Asiyah, Afid, Kak Ina, Suci, Kak Lia, Khalis, Kak Nurul, Mas Azhari, Bima, Teh Isma, Mas Tyan, Mbak Millah, Allan, Irma, Barra, Kak Anti, dan seluruh pengurus KAMIL, saya banyak belajar dari kalian semua. Kalau saya hanya sendiri, mungkin saya hanya akan terlindas pergolakkan zaman. Salam hormat juga untuk Dewan Penasehat Organisasi KAMIL, Pak Azrul, Mas Dedi, Mas Fawzi, dan tentu saja untuk Dosen Pembina KAMIL terbaik, Ibu Dewi Larasati.

Salam hangat dari saya, hamba Allah yang tertawan dosanya, yang banyak khilafnya, sedikit ilmunya, yang hanya ingin berbagi secuil hikmah peristiwa kehidupannya. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.

Bandung, 26 Januari 2017
Firdha Cahya Alam
S2 Teknik Lingkungan ITB 2015
Ketua Umum KAMIL Pascasarjana ITB 2016-2017
‘Demisioner’

***

Disclaimer.
Tulisan ini seharusnya ada di Pustaka KAMIL (Buku Terbitan Kepengurusan 2016), but dipost duluan di sini karena sedang open recruitment kepengurusan 2017-2018. hehehe
klik bit.ly/yukjoinkamil2017 

Advertisements