takut umroh

Tadinya Takut Umroh Malah Menemukan Keseruan yang Tak Terlupakan

Posted on Updated on

Judul yang dibuat bombastis mengikuti media mainstream saat ini. Hehe.

***

Pertama kali diajak umroh sebetulnya saya ragu, muncul perasaan seperti “Siap kah? Ntar gimana ya? Waduh ntar aja deh”, dan sebagainya. Namun, ketika manasik, salah seorang ustadz bilang bahwa kebanyakan orang yang takut untuk umroh itu karena dosa. Ya, orang-orang yang banyak dosa yang takut langsung Allah balas di Mekkah. Tapi ustadz tersebut meyakinkan, “Mengapa Allah ‘hanya’ mau membalas dosa kita ketika di Mekkah? Bukankah Allah bisa dengan mudah membalas dosa kita di sini?” Dan statement itu pun membuat saya berpikir, “Iya juga ya.” Serta merta, ketakutan untuk berangkat itu pun sedikit berkurang. Ya wajar lah saya takut, ku makhluk penuh dosa begini 😦

***

Sebagai informasi, ibadah umroh itu sederhananya terdiri dari berihram di miqot, thawaf, sa’i, dan tahallul (sekitar 2 – 3 jam saja durasi thawaf hingga tahallul). That’s it. Very simple. Sisanya kalau melihat umroh yang sampai berminggu-minggu, itu hanya tambahan saja untuk memperbanyak ibadah maupun ziarah.

Untuk membuat artikel ini semakin simple ala-ala hip***, saya paparkan 9 hal tak terlupakan ketika melaksanakan umroh pada akhir Ramadhan dan Syawal.

  1. Buka puasa disediakan jamaah dan panitia

Pertama kali buka puasa di sana pada saat 28 Ramadhan, berangkat sore hari dengan kondisi masih panas terik. Keadaan sangat haus dan lemas. Duduk di masjid setengah sadar. Bahkan sampai baca quran tidak ada suaranya. Haha. Datang dengan tangan kosong, tetapi diberi jamaah yang berlomba-lomba membagikan makanan (dari mulai kurma, roti cane/canai/maryam, air zamzam dingin, kopi arab, dan snack). Alhamdulillah banget, pertama kalinya buka puasa merasa sangat bersyukur. Berasa akhirnya ya Allah adzan juga. *adzan maghrib sekitar jam 7 malam, tapi terasa begitu lama.

IMG20170623185659
makanan yang didapat
IMG20170623173911
kondisi di selasar luar masjid
IMG20170623190628
kondisi bagian dalam masjid

Sistemnya itu akan ada orang yang menggelar plastik panjang yang menutupi shaf tempat sujud. Kemudian orang-orang akan menaruh kurma, roti, dll di masing-masing tempat orang. Banyak juga orang yang membagikan air (jus, susu, kopi, zamzam) sembari berkeliling membawa teko, atau membagikan kurma dan makanan lain bagi orang yang masih thawaf, atau berlalu lalang mencari shaf.

  1. Shalat Tarawih yang berkesan

Saya lupa-lupa ingat berapa jumlah rakaatnya. Yang jelas dua rakaat salam-dua rakaat salam, dengan bacaan yang ringan. Maksudnya satu surat langsung ruku’, atau dua surat lalu ruku’. Tidak lama berdiri, walaupun secara total 1 juz tarawihnya (saat itu juz 30 di malam 29 Ramadhan). Oh ya, dari satu shalat tarawih (yang dua rakaat) ke dua rakaat berikutnya, jedanya hanya sangat sebentar. Jadi, jika kita gunakan jeda untuk minum saja, sudah keburu takbir lagi imamnya. Tarawih selesai sekitar jam 11 atau 11.30 (isya sekitar jam 9). Ba’da tarawih ada selang sekitar satu jam atau dua jam, kemudian dimulai shalat qiyamul lail lagi. Nah jika qiyamul lail, baru dengan berdiri yang lama.

Sebetulnya, yang sangat berkesan adalah suara bacaan imam yang merdu. Ketika Anda pernah mendengar suara imam Sudais, atau Maher, dan imam-imam lainnya di mp3 murottal dari laptop. Saat ini Anda mendengarnya langsung alias live. Bukankah itu priceless :”) Akan sangat indah lagi jika kita sudah familiar dengan banyak murattal imam masjidil haram, sehingga tidak bingung siapa yang sedang jadi imam.

 

  1. Lebaran tetap ramai!

Menurut beberapa orang, akan sepi lebaran di Mekkah. Ah menurut saya tidak juga. Ramai kok. Selesai isya, semua orang langsung berhamburan. Bahkan ada yang sudah cipikacipiki ied Mubarak. Belum terdengar suara takbiran dari pengeras suara, tapi beberapa orang secara individu sudah mulai melantunkan kalimat takbir. Saya dalam hati: Jadi, besok syawal nih? Fix lebaran? :”)

Suara takbiran baru mulai bergema ba’da shubuh. Langsung haru rasanya. Shalat ied pun dimulai sekitar pukul 6 pagi. Setelah itu, ada ceramah ied yang saya bisa dengar translation-nya via radio. Ada petugas khusus translation juga yang berkeliling membawa earphone gratis.

Ba’da ceramah, orang-orang berhamburan keluar, terlihat saling salam dan berpelukan. Toko-toko langsung ramai, apalagi tempat makanan. Jalanan sangat macet. Ramai sekali.

IMG20170624215132  IMG20170625065239

IMG20170625070617  IMG20170625071008 IMG20170625071450

 

  1. Perbedaan budaya

Shock culture mungkin akan terjadi di negara yang kita kunjungi dimana pun itu. Tapi ketika di Mekkah dengan seluruh muslim dari berbagai belahan dunia muncul, sulit untuk membedakan orang ini berasal dari daerah atau negara mana. Sehingga saya tidak tahu, perilaku orang yang membuat shock ini berasal dari negara mana. Misalnya, ketika seseorang permisi mau lewat dari satu shaf ke shaf di depannya, jika di Bandung, umumnya orang akan bilang “punten”, atau menjulurkan tangan di antara dua orang, atau memegang bahu orang yang akan dilewati. Tapi sering yang saya alami adalah, orang yang permisi justru memegang kepala kita. Haha. Kepala. Pertama kali saya kaget, kayak “What?” Tapi ternyata itu tidak terjadi pada kepala saya saja, kepala orang lain juga mengalami hal yang sama.

Shock culture yang lain adalah ketika melihat orang lain marah. Terkadang orang yang salah, malah justru dia yang marah. Misalnya ada seseorang menyenggol orang lain, dan yang menyenggol yang menurut saya pihak yang salah karena dia bawa barang rempong jadi nabrak orang lain, tapi malah dia yang sewot marah-marah. Bingung kan?

Ada lagi flash back saat di imigrasi. Antrian yang sangat panjang dari orang-orang yang lelah dan letih setelah perjalanan panjang harus menghadapi petugas imigrasi yang “santai”. Para petugas imigrasi masih bisa melayani kita sambil menelefon orang lain, chit chat lama dengan petugas lain, ketawa-ketiwi di hadapan antrian manusia yang sudah seperti orang mau demo. “Hello ada orang disini.” Sepertinya mereka juga lelah dan sudah kebal (?) Ntahlah.

Ada juga budaya menarik lain, yaitu semangat menasihati orang lain tanpa sungkan. Jadi suatu siang di dalam masjid, ada orang-orang sedang mengobrol. Mereka sepertinya membicarakan seputar kondisi perpolitikan negaranya masing-masing. Tiba-tiba ada seseorang datang pada mereka, mengucap salam, pembuka sejenak, lalu membacakan hadits (?) tentang keutamaan berdzikir. Kemudian orang itu pun pergi. Orang-orang pun tersenyum.

Saya pun pernah mengalami langsung. Ketika saya memakai gelang tanda pengenal jamaah umroh yang berwarna oranye mencolok, seseorang di sebelah saya menegur saya, mengucap salam, dan lalu bilang “haram” sambil menunjuk gelang yang saya pakai. Lalu saya tunjukkan kalau gelang ini ada tulisan “keterangan jamaah umroh dst” lalu dia menunjukkan ekspresi “okay” dan meminta saya untuk menggunakan bagian gelang yang terlihat tulisannya.

  1. Dari jilbab yang “asal clek” dengan tangan siku masih kelihatan, sampai yang jilbab menutup seluruh tubuh (include wajah dan mata) ada di sini

Mungkin yang jilbabnya masih pada kelihatan tangan sampai sikunya itu bawa mukena juga. Hehe. Tapi yang jelas, ada sangat banyak perbedaan terjadi di Mekkah. Perkara lain yang berbeda dari mulai cara takbir, posisi tangan saat i’tidal, posisi kaki saat tahiyat, gerakan telunjuk saat tahiyat, dan sebagainya.

  1. Banyak simbol mata satu

Tidak banyak sebetulnya, hanya saja logo ini dipakai oleh kepolisian -yang mana- polisi ada dimana-mana, sehingga membuat mata satu itu ada dimana-mana. Entahlah mungkin saya cuma paranoid.

IMG20170624113245   img20170625065745.jpg

  1. Tukang dagang yang jago berbagai bahasa

Kalau ada tampang melayu Indonesia lewat, dia nyaut Bahasa Indonesia. Kalau orang wajah-wajah Pakistan, dia akan bicara urdu. Kalau ada orang Turki, dia bicara Bahasa Turki. Ini saya nebak aja sih. Karena tidak bisa membedakan bahasa. Haha. Yang jelas para pedagang bisa berbagai bahasa.

  1. Suasana Mekkah dengan spiritual tinggi, suasana Madinah sendu ngangenin

Tak bisa dipungkiri suasana Mekkah memang sangat luar biasa. Ketika melihat orang thawaf, atau melihat orang yang berusaha untuk mencium hajar Aswad, shalat di Hijr Ismail atau di belakang Maqam Ibrahim, atau melihat orang yang berdo’a begitu lama (saya lihat ada yang sampai 30 menit mengangkat tangan untuk berdo’a sambil berdiri), melihat semua itu kadang membuat hati sedih. Membuat diri merasa masih jauuuuh rasanya dari taat, membuat diri merasa hina, butiran debu is real lah. Malu rasanya.

IMG20170626162212

Pun di Madinah, yang lebih saya rasakan adalah rasa rindu orang-orang terhadap Rasulullah SAW dan para sahabat. Ketika melalui makam Nabi dan para sahabat banyak orang yang berhenti sejenak dan berdo’a. Ah sedih. Apalagi membayangkan juga dulu bagaimana persaudaraan Muhajirin dan Anshar yang begitu melegenda terjadi di Madinah. Semua tempat memiliki cerita masing-masing.

IMG20170702055609 IMG20170630165059

  1. Tak bisa Bahasa Arab membuat merasa terasing

Bagaimana tidak? Percakapan dimana-mana hampir selalu terdengar Bahasa Arab. Seorang jamaah pun pernah menegur saya dan bertanya asal dari mana, kemudian dia bertanya “Speak Arabic?” dan saya hanya bisa menjawab “No.” Pembicaraan pun kikuk 😦

***

Ah sebetulnya masih banyak lagi keseruan yang terjadi. Seperti petugas masjidil haram dengan berbagai seragamnya, “mengerikannya” gedung-gedung pencakar langit di sekitar masjidil haram yang makin banyak, hitsnya al-baik chicken, perpustakaan masjidil haram, tempat-tempat bersejarah di Mekkah-Madinah, exhibition di seputar Masjid Nabawi yang seru, dan lain sebagainya. Tapi rasanya ini sudah terlalu panjang. Haha.

***

Kembali lagi ke ketakutan untuk umroh, ternyata bukan saya saja yang mengalaminya. Ada banyak di Indonesia yang juga terjangkit sindrom ini. Seorang jamaah pernah bercerita pada saya, beliau seorang bapak yang cukup tua, dia juga pernah tidak berniat untuk umroh. Bahkan menurutnya, karena dia tidak niat-niat, booking umroh yang dilakukan anaknya tak kunjung tembus. Selalu ada masalah sehingga gagal berangkat. Namun ketika dia mulai berniat, maka Alhamdulillah diizinkan berangkat. Beliau pun bertutur bahwa dia bahkan sudah lupa cara baca huruf arab. Tetapi ketika di Mekkah dia jadi ingat lagi Alhamdulillah.

Tentang niat, bapak itu pun berpesan: Niatkan dulu saja untuk berangkat umroh, untuk haji. InsyaAllah ada jalan. Buktinya banyak kisah orang-orang “tidak mampu” yang justru Allah mampukan dengan jalan tidak terduga. Jangan sebaliknya, sudah punya kemampuan harta, bahkan sudah meng-umroh-kan atau meng-haji-kan saudara-saudaranya. Tetapi ketika diajak berangkat, selalu berkata, “Saya belum siap. Pokoknya belum siap.” Dia bilang, ada lho orang yang seperti ini. Bukankah itu ironi 😦

Jadi, yuk sama-sama niatkan untuk berangkat.
Ketika saya takut berangkat pun malah bertemu dengan berbagai keseruan dan ketakjuban, apalagi jika Anda berangkat dengan niat dan persiapan yang matang :”)

Semoga Allah memudahkan jalan kita semua 🙂

===

Ditulis sebagai penyemangat bagi diri sendiri, dan semoga bermanfaat bagi pembaca.

Syawal 1438 H

Advertisements