Teknik Lingkungan

Semester 3 – S2 TL ITB

Posted on Updated on

Semester 3 di TL ITB merupakan tahap yang sangat berkesan bagi saya. Mengapa? Karena di semester 3 merupakan puncak dari kegiatan KAMIL Pascasarjana ITB, rasanya hampir setiap pekan ada acara. Sepertinya saya lebih sibuk di Kamil daripada di prodi. Haha. Selain itu, alhamdulillah juga di semester 3 ini bisa tercapai impian ke Eropa, sungguh Allah sebaik-baik pembuat rencana. Mungkin saya bahas ini di tulisan lain. Mungkin.

***

Semester 3 sebetulnya didesain bagi kita untuk memilih mata kuliah yang mendukung tesis kita. Jika kita ingin mengambil tesis tentang air, maka wajarnya orang akan banyak mengambil mata kuliah tentang air. Jika topik tesis tentang udara, tentu orang tersebut akan banyak mengambil mata kuliah berkaitan dengan udara. Namun, kenyataanya itu hanya teori. Banyak dari kita mengambil mata kuliah tidak melulu menyesuaikan tesis kita. “Atau mungkin hanya saya saja?”

Saya mengambil mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara, Rekayasa Air Berkelanjutan, dan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sangat random. Sebetulnya itu didasarkan karena saya yang S1-nya bukan TL, sehingga saya ingin belajar juga ilmu-ilmu lain yang tidak didapatkan ketika S1. Oleh karena itu, saya ingin memanfaatkan semester 3 ini sebaik mungkin untuk menjadi mahasiswa TL seutuhnya. Jadilah saya mengambil kuliah tentang air, udara, dan B3 (bukan tanah atau api). Namun, realitanya secara akumulatif saya tidak masuk kelas sampai kurang lebih satu bulan karena exchange tersebut, maka materi yang saya dapat secara langsung dari dosen tidak menyeluruh.

Pertama, mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara yang berbicara secara umum mengenai bagaimana kita mengelola kualitas udara, dari mulai prinsip dasar, skema air quality management, cara membuat kebijakan yang berdasarkan sains, cara perhitungan konsentrasi kualitas udara, pengenalan pemantauan kualitas udara, pemodelan kualitas udara, dan sebagainya. Sangat menarik, terutama bagi saya yang belum pernah belajar tentang ini sebelumnya. Hal penting yang saya dapat dari mata kuliah ini adalah, kita belum banyak memperhatikan permasalahan udara, banyak sekali teknologi yang tertinggal, standar kualitas udara pun berbeda dengan standar yang ada sekarang di dunia akibat keterbatasan teknologi tersebut. Selain itu, ada kata-kata yang terngiang dari ibu dosen, kurang lebih begini, “Negara lain sudah sangat memperhatikan hal-hal kecil, sedangkan negara kita, hal-hal besar saja tidak diperhatikan.” Miris.

Rekayasa Air Berkelanjutan, saat itu kami diajarkan tentang bagaimana memanfaatkan lingkungan dengan engineering untuk mendapatkan sumber daya air yang sustainable. Sebagai contoh, ada materi tentang wetland, green infrastructure, pengenalan rain water harvesting, dan berbagai teknologi dan penerapan pengolahan air. Sangat menarik. Poin penting yang saya dapat pada mata kuliah ini adalah sebetulnya ada banyak teknologi yang kita miliki dan bisa kita terapkan, tapi mungkin karena kita merasa “belum butuh”, dan stigma “air masih banyak”, sehingga hal ini tidak begitu diperhatikan.

Terakhir, pada mata kuliah Pengelolaan Limbah B3 kita diajarkan tentang definisi B3, limbah B3, klasifikasi limbah B3, pelabelan limbah B3, berbagai peraturan nasional maupun internasional terkait limbah B3, bahaya limbah B3, dan sebagainya. Poin penting yang saya dapat dari mata kuliah ini adalah ketika di lapangan, terkadang ada banyak “permainan” untuk mengakali limbah B3 ini. Ada yang berusaha agar limbah biasa diminta “diklasifikasikan B3”, atau ada yang berusaha sebaliknya. Hal ini juga salah satunya akibat peraturan yang terkadang kurang sesuai. Ya, memang banyak ironi di negeri ini kan?

Ah ya, satu lagi. Di semester 3 sebetulnya saya sudah mengambil mata kuliah Seminar dan Tesis. Mata kuliah ini bisa kita ambil sejak semester 3 agar semester 4 bisa nol SKS. Nol SKS berarti kita hanya membayar biaya kuliah setengahnya. Hehe. Alasannya tak hanya itu sebenarnya, jika mengambil tesis di semester 3, kita menyiapkan galat untuk lulus Juli atau Oktober dan memacu kita untuk lulus Juli. Hal ini karena jika kita mengambil tesis di semester 4, akan sulit untuk lulus Juli (atau mungkin bisa tapi sepertinya ajaib?) karena prosedur dari pengajuan Uraian Garis Besar (UGB) judul tesis, pengumuman judul tesis dan pembimbing, pembuatan proposal, Seminar 1, bingung-kebanyakan-mikir-mau-ngapain dan tahap-tahap selanjutnya yang membutuhkan waktu tak sebentar. Jadi saran saya tetap ambil tesis semester 3 ya. Hehe.

Mungkin itu saja kisah singkat di semester 3. Semoga bermanfaat bagi para mahasiswa S2 TL, calon mahasiswa, dan para pembaca sekalian. Semoga sukses!

Semester 2 – S2 TL ITB

Posted on Updated on

Kembali lagi dengan cerita perkuliahan di Program Magister Teknik Lingkungan ITB, Jalur Teknologi dan Manajemen Lingkungan. Di semester dua terdapat beberapa mata kuliah wajib, yaitu Ekonomi dan Valuasi Lingkungan, Transport dan Transformasi Polutan, Pemodelan Lingkungan, dan Metode Penelitian. Selain itu, kita pun berhak mengambil beberapa mata kuliah pilihan. Saya memilih mata kuliah Daur Ulang Limbah, Perencanaan Lingkungan, dan Kapita Selekta.

Pada kuliah Ekonomi dan Valuasi Lingkungan kami belajar bahwa mengerti ilmu teknik lingkungan saja tidak cukup. Kita belajar bahwa di dunia nyata, orang akan bertanya “Apa untung-ruginya?”; “Berapa nilainya dari segi ekonomi?”, pertanyaan yang akan dilontarkan pada orang-orang dengan background ilmu idealis seperti teknik lingkungan. Kita tidak cukup hanya berkata, “Jangan bangun villa di daerah atas!”, “Jangan lakukan reklamasi!”, “Jangan bangun gedung di daerah ini!”, tanpa menyertakan perhitungan valuasi lingkungannya.  Selain itu, pada mata kuliah ini pun kami dijelaskan bahwa kadang –bahkan seringkali ketidak-idealan itu terjadi. Banyak valuasi proyek lingkungan yang dilakukan berdasarkan kepentingan orang yang membiayai perhitungan valuasi tersebut. Bisa kepentingan baik, bisa juga tidak. Sebuah ironi negeri ini.

Kami pun belajar hal lebih teknis pada mata kuliah Transport dan Transformasi Polutan. Pada mata kuliah ini saya merasa diajarkan sangat engineering. Misalnya, menghitung kadar air tanah, menghitung polutan yang terakumulasi pada ikan, menghitung waktu yang dibutuhkan untuk persebaran polutan, dsb. Ya, cukup menarik. Setelah belajar hal yang sangat broad pada kuliah Ekonomi dan Valuasi Lingkungan, pada kuliah ini kita belajar hal yang sangat detail dan spesifik.

Di mata kuliah Pemodelan Lingkungan kami belajar hal yang luas dan bisa juga spesifik. Pada mata kuliah ini kami belajar bagaimana membuat model dari masalah lingkungan yang terjadi. Masalah lingkungan bisa berupa hal makro seperti banjir, sampah, polusi udara, bisa juga hal mikro seperti pemodelan laju bioakumulasi, transport polutan pada air tanah, dsb. Mata kuliah ini menarik karena membuat kita belajar untuk melihat masalah secara menyeluruh terlebih dahulu, baru kemudian dipilih faktor-faktor utama dalam masalah tersebut. Salah satu tools-nya adalah System Dynamics. Sangat menarik.

Pada kuliah Metode Penelitian, kami belajar tahap-tahap dalam memulai suatu penelitian. Kami pun diajarkan mengenai contoh-contoh kasus plagiarisme yang ada pada dunia akademisi. Titik tekan pada mata kuliah ini adalah, bagaimana pola pikir kita bisa terbentuk untuk melakukan suatu penelitian. Dimulai dari masalah yang ada, menyusun hipotesis, dst.

Pada mata kuliah pilihan Daur Ulang Limbah, kami diajarkan mengenai teknologi dan peluang daur ulang limbah dari suatu permasalahan. Pada saat saya mengambil mata kuliah ini, dibagi menjadi dua bagian yakni mengenai reclaimed water (air daur ulang) dan solid waste management. Sangat menarik, walaupun terkadang lebih difokuskan pada teknologinya.

Pada mata kuliah Perencanaan Lingkungan, kami pun diajarkan berpikir luas kembali. Kami belajar mengenai konsep Design for Environment, Sustainable Development, Cradle to Grave, Material Flow Analysis, Risk Assessment, dsb. Sebagai contoh konsep Design for Environment adalah melihat dari suatu siklus di industri bagian mana yang paling mencemari lingkungan, kemudian kita pikirkan bagaimana cara mengatasinya, apakah mengganti bahan baku, mengganti teknologi, dsb.

Terakhir adalah mata kuliah Kapita Selekta. Pada saat saya mengambil mata kuliah ini, Kapita Selekta yang diadakan berupa kuliah online bertajuk “Sustainable Water Dialogue”. Kuliah online ini merupakan kerjasama empat negara, yaitu Indonesia, Jerman, Iran, dan Mesir. Mata kuliah ini sangat menarik karena kita bisa belajar permasalahan air di empat negara berbeda dan bagaimana mereka mengatasi permasalahan tersebut.

Jika kita lihat secara umum, semester dua membuat kami untuk memilih bidang apa yang paling kita minati di teknik lingkungan, entah itu air, sampah, atau udara, atau mungkin seluruhnya. Namun begitu, kita pun perlu dibekali hal yang sama, pengetahuan spesifik engineering, berpikir global melihat permasalahan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, dan tentu saja belajar menggunakan pola pikir penelitian.

Tambahan: menjelang akhir semester kami diminta membuat Uraian Garis Besar Judul Tesis, bagi yang berencana mengambil tesis Semester 3. Sebaiknya dipersiapkan sejak awal ya, jangan seperti saya. Haha.

Well, sebetulnya banyak hal lain yang terjadi di semester dua. Tapi mungkin cukup itu saja sebagai gambaran. Untuk yang akan menghadapi semester dua, semoga beruntung!

Semester 1 – S2 TL ITB

Posted on

Saya akan sedikit cerita mengenai hal-hal yang saya dapat dari berbagai mata kuliah di semester 1, S2 Teknik Lingkungan ITB, Jalur Teknologi dan Manajemen Lingkungan.

Saya belajar bahwa untuk meyakinkan pemerintah, masyarakat, industri, dan stakeholder lainnya mengenai suatu permasalahan lingkungan, diperlukan suatu penyajian data dalam bentuk yang baik dan benar. Suatu data tidak akan bisa memberi arti jika tidak diterjemahkan dan dianalisis dengan cara yang benar. Dan kami belajar mengenai hal tersebut di Analisis Data Lingkungan. Berbagai metode statistik dalam penyajian data, analisis data, dipelajari di mata kuliah ini.

Saya juga belajar bahwa kita tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan lingkungan seorang diri. Kita membutuhkan ahli dari berbagai bidang, ahli biologi, ahli pertanian, ahli sipil, dan ahli lainnya. Sudah tidak jamannya lagi untuk ego pada kemampuan masing-masing. Saya pelajari ini di mata kuliah Konservasi Sistem Lingkungan. Pada kuliah ini juga kita diajarkan untuk berpikir secara runut dalam menyusun rencana konservasi suatu sistem lingkungan, dari penentuan komponen lingkungan yang berpengaruh, hingga membentuk System Interrelationship Model. Pesan lain dari kuliah ini adalah, terkadang kita berpikir terlalu kompleks dan tidak teratur, padahal akan lebih mudah jika dibuat sesederhana mungkin dan berpikir secara runut.

Untuk memahami permasalahan lingkungan, tentu harus dipelajari hal yang paling mendasar. Maka dari itu, ada mata kuliah Dasar-dasar Teknik Lingkungan. Mata kuliah ini sangat mendasar, bahkan terdapat materi kimia yang mendasar di dalamnya, materi biologi, juga proses fisika. Mata kuliah ini bisa dikatakan sebagai modal awal untuk berkuliah di Teknik Lingkungan.

Di semester ini juga kami diwajibkan untuk mengambil mata kuliah prerequisite Kimia Lingkungan, Mikrobiologi Lingkungan, dan Laboratorium Lingkungan. Kimia lingkungan mengajarkan penggunaan ilmu kimia di lingkungan. Mikrobiologi lingkungan lebih mengajarkan berbagai teknologi pengolahan lingkungan yang melibatkan mikroba. Sedangkan Laboratorium lingkungan mengajarkan berbagai metode analisis laboratorium berbagai parameter kualitas air. Prerequisite ini sebagai modal dasar dan pendukung juga dalam memahami dasar ilmu lingkungan.

Selain itu juga ada mata kuliah Penelitian Operasi. Di mata kuliah ini kita belajar untuk berpikir secara efisien. Bagaimana suatu permasalahan lingkungan dibuat dalam model matematis sederhana. Ada juga mata kuliah Matematika Lanjut, model matematis yang lebih kompleks dipelajari. Pada kelas kami yang dipelajari adalah model yang berkaitan dengan air, banjir, dan turap.

Maka jika digabung, untuk menyelesaikan suatu permasalahan lingkungan, sebagai contoh untuk melakukan konservasi suatu kawasan, akan diperlukan ahli dari berbagai bidang. Untuk menunjukkan bahwa di suatu tempat benar-benar telah terjadi pencemaran lingkungan diperlukan statistik untuk menampilkan data secara benar dan meyakinkan. Dan untuk menyelesaikan suatu problem lingkungan yang besar, dapat disederhanakan melalui model matematis.  Dan tentunya, tidak akan bisa dilakukan penyelesaian masalah lingkungan jika kita tahu dasar dari ilmu lingkungan itu sendiri.

Pola pikir yang dibentuk di semester 1:

Mengetahui dasar ilmu lingkungan -> mengetahui bagaimana menyajikan data lingkungan -> mengetahui bagaimana melihat suatu permasalahan lingkungan secara sistem -> mengetahui bagaimana membuat model untuk membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan.

***

Jika Anda ingin kuliah di S2 Teknik Lingkungan ITB, khususnya Jalur Teknologi dan Manajemen Lingkungan, kurang lebih begitulah gambaran materi kuliah di semester satu. Semoga bermanfaat 🙂

Satu Bulan Pertama di S2 TL ITB

Posted on Updated on

Sudah kurang lebih satu bulan saya berkuliah di S2 Teknik Lingkungan ITB. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi beberapa hal menarik yang saya dapat dari minggu-minggu awal saya berkuliah di sini.

  1. Saya jadi sadar bahwa ilmu yang kita miliki itu sangatsedikitsekali. Ada sangat banyak hal di dunia ini yang tidak kita ketahui dan rasanya kita tidak mungkin sanggup mengetahui semua ilmu tersebut. Hal ini terlintas di benak saya karena saya belajar hal-hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya. Saya merasa seperti bungkus ciki yang tidak tahu menahu tentang istilah-istilah yang ada di TL. Misalnya saja, sebelumnya saya masih suka tertukar yang mana hulu dan hilir sungai (wkwk – kacau), saya tidak tahu perundang-undangan tentang lingkungan, saya tidak tahu tentang baku mutu, jenis pengolahan limbah, dan lain sebagainya. Tapi toh sekarang ini saya berkuliah di TL, maka cepat atau lambat saya seharusnya akan mengetahui tentang hal-hal tersebut. Namun, di luar sana pun ada banyak orang yang belajar hal lain yang tidak kita ketahui. Semakin sedikiiit rasanya ilmu yang kita tahu.
  1. Mahasiswa S2 TL berasal dari latar belakang keilmuan S1 yang berbeda. Ada yang asli S1 TL, ada yang dari jurusan sains seperti Kimia, Biologi, Mikrobiologi, Meteorologi, ada juga yang dari Teknik Sipil, Teknik Kimia, bahkan Planologi sampai Pertanian. Benar-benar beragam. Ketika proses belajar-mengajar, kami diajak berpikir bahwa kita butuh orang dari berbagai ahli, kita tidak bisa mengandalkan ilmu yang kita miliki saja, kita perlu bekerja sama. Tetapi ketika kita sudah menjadi seorang environmentalist, berpikir dan bertindaklah layaknya environmentalist.
  1. Ketika kami kuliah di dalam kelas, kami seperti dilatih untuk bertanggung jawab dengan latar belakang keilmuan yang sudah kami miliki. Di kelas sering sekali ditanya “Mana anak kimia? Coba jelaskan tentang blablabla.”, “Di sini ada yang dari biologi? Coba apa maksudnya blablabla..”. Dan “beruntungnya, saya satu-satunya anak kimia di kelas TML*. Jadilah saya sasaran empuk untuk ditanya dosen jika ada topik berkaitan dengan kimia. Agak beban, apalagi jika saya tidak bisa menjawab pertanyaan. Haha.
  1. Saya bertemu dengan dosen yang keren banget. Bahkan saya sempat berpikir untuk langsung bertemu beliau selepas kelas dan mengajukan diri agar jadi anak bimbingannya. Haha. Tapi niat itu saya urungkan karena itu baru pertemuan pertama.
  1. Dan lain-lain 😀

===

*Sebagai informasi, S2 TL dibagi menjadi tiga jalur. Jalur ini sebetulnya membagi kita dalam metode penelitian yang akan kita lakukan. Jalurnya adalah:

  1. TML (Teknologi dan Manajemen Lingkungan)
    Membuat pemodelan lingkungan, membuat sistem, valuasi, dan manajemen lingkungan.
  1. PPP (Pengendalian dan Pencegahan Pencemaran)
    NgeLab. Mendesain reaktor. Proses dalam pengolahan. Anak TL banget.
  1. KKL (Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan)
    Memperhatikan aspek manusianya di dalam lingkungan, dari segi kesehatan dan keselamatan.

Dan saya memilih jalur TML. Hehe.

Mohon do’anya agar ilmu yang kami dapatkan bisa diaplikasikan di masyarakat 🙂

===

Magister TL ITB 2015
Magister TL ITB 2015